YESUS Mengutuk Pohon Ara

Sebuah pelajaran bagi penatalayanan keluarga

Matius 21:19-20

Dekat jalan Ia melihat pohon ara lalu pergi ke situ, tetapi Ia tidak mendapat apa-apa pada pohon itu selain daun-daun saja. Kata-Nya kepada pohon itu:”Engkau tidak akan berbuah lagi selama-lamanya!” Dan seketika itu juga keringlah pohon ara itu. Melihat kejadian itu tercenganglah murid-murid-Nya, lalu berkata: ”Bagaimana mungkin pohon itu sekonyong-konyong menjadi kering?”

Pohon ara yang dikutuk itu tiba-tiba menjadi kering! (pemaparan Markus, keringnya pohon ara tersebut baru diketahui esok harinya.) Peristiwa itu pasti akan mengejutkan siapapun yang menyaksikannya, demikian juga murid-murid Yesus. Dan ternyata pertanyaan yang muncul dari murid-murid-Nya merupakan pertanyaan umum yang akan ditanyakan semua orang yang menyaksikannya, dan itu berasal dari ketakjuban mereka, sesuatu yang mustahil secara akal,  ”Bagaimana mungkin?”

Yesus akhirnya mengajarkan tentang iman sebagai jawabannya. Tetapi kali ini saya tidak membahas tentang iman, karena sesungguhnya ada sebuah pertanyaan yang menggelitik si balik peristiwa itu dan sering disalah-pahami para pembaca Alkitab. Mengapa Yesus memilih mengutuki pohon ara dari pada memberkati sehingga berbuah dan bermanfaat? Bukankah itu hanya akan memberikan gambaran yang kejam tentang Tuhan? Pengajaran apakah sesungguhnya yang ingin Ia sampaikan tetapi tidak pernah Ia jelaskan?

Pohon ara lambang kemakmuran

Menurut ensiklopedi Wikipedia, ada 800-an jenis pohon ara, namun ada tiga jenis yang menonjol dalam peristiwa di Alkitab yaitu ara Ficus Sycomorus, ara Morus Nigra L, dan ara Ficus Carica L. Jenis terakhir inilah yang diperkirakan di kutuk oleh Yesus sesuai Matius 21:19-22.

Penting untuk kita pahami bahwa pohon ara sering dihubungkan dengan janji-janji Allah tentang kemakmuran (Zakaria 3:10; 1 Raja-raja 4:25). Ada pepatah yang menggambarkan orang-orang yang makmur adalah orang yang ”berdiam masing-masing di bawah pohon anggur dan pohon aranya.” Buah ara di samping pohon anggur menjadi komoditas ekonomi yang berharga. Pada zaman Yunani buah ara dipandang sebagai begitu penting untuk perekonomiannya sehingga orang Yunani membuat undang-undang khusus untuk mengatur pengeksporannya. Daunnya dapat dimanfaatkan untuk membungkus buah-buahan yang baru dipetik untuk dibawa ke pasar dan sekarang ini menjadi komoditas yang mahal. Buah ara selain dapat dimakan langsung, juga dapat dibuat kue yang mahal harganya, karena makanan inipun biasa dihidangkan bagi raja-raja. (2Raja-raja 20:7; Yesaya 38:27). Jenis pohon ara yang dikutuk oleh Yesus dapat memberi buah selama kurang lebih 10 bulan setiap tahunnya.

Jikalau pohon ara mempunyai nilai ekonomi yang tinggi dan menjadi sumber penghidupan, mungkin kita dapat membandingkannya dengan pekerjaan-pekerjaan kita pada masa kini. Pada masa kini, pekerjaan kita menjadi sumber penghidupan. Kemakmuran secara ekonomi seseorang diukur dengan penghasilannya dari pekerjaan yang dimiliki. Bagi sebuah negara, semakin tinggi pendapatan nasionalnya semakin makmur bangsa itu.

Tidak semua buah menjadi hak pemiliknya

Yang menarik adalah ternyata dalam masa berbuah setiap tahun tersebut, berlangsung dalam tiga tahap atau tiga musim.

Tahap pertama disebut ”musim buah bikurah” atau ”buah sulung”. Ensiklopedi Alkitab menyebutnya sebagai buah ara hijau. Orang Israel mempunyai ketetapan bahwa buah sulung itu milik Tuhan.

Tahap kedua disebut ”musim buah ara” atau juga musim buah ara bungaran, rasanya segar dan enak serta buahnya paling banyak. Pada musim buah ara, pemilik pohon berhak memanfaatkannya untuk penghidupannya. Ini berarti menjadi komoditas ekonomi.

Pada saat Tuhan Yesus mengutuk pohon ara, tahap berbuah ini atau ”musim buah ara” sudah lewat. Markus mencatatnya dengan tepat ”…Tetapi waktu Ia tiba di situ, Ia tidak mendapat apa-apa selain daun-daun saja, sebab memang bukan musim buah ara.” (Markus 11:13). Pernyataan Markus ini jika tidak dipahami dengan benar maka pembaca akan melihat sifat Yesus yang sewenang-wenang. Kalau memang bukan musim buah ara mengapa marah dan mengutuk ketika tidak menemukan buahnya?

Sebagai orang yang mau belajar, kita harus melihat bahwa kalau Yesus marah mendapati pohon ara sudah tidak ada buahnya, pasti ada alasannya. Alasannya adalah, seharusnya masih ada buah ara, karena setelah musim buah ara lewat, pohon masih tetap menghasilkan buah dengan memasuki musim berbuah tahap ketiga.

Tahap ketiga disebut ”musim buah pag”. Pada musim ini pohon tidak menghasilkan buah sebanyak dan sesegar musim buah ara. Orang-orang Israel menetapkan bahwa pada musim ini pemilik tidak boleh mengambil buahnya. Buah ini merupakan hak dari orang-orang Lewi dan orang-orang berkekurangan. Hak itu pun hanya dapat dimanfaatkan oleh mereka bukan untuk disimpan sebagai cadangan makanan, tetapi diambil secukupnya untuk kebutuhan saat itu, maupun pada saat dalam perjalanan. Buah ara memang tidak dapat tahan lama setelah dipetik. Tampaknya Yesus datang mencari buah ara pada musim buah tahap ketiga ini, dan Ia sudah tidak menemukan apa-apa.

PELAJARAN

1. Yesus ingin kita menjadi penatalayan yang baik

Mengapa buah pada musim buah pag sudah habis? Ada dua alasan yang mungkin terjadi. Pertama, pemiliknya mengabaikan aturan yang mengharuskan buah pada tahap ketiga ini untuk orang Lewi dan orang berkekurangan. Mereka memanennya untuk diri sendiri. Di sini kita melihat sifat manusia yang cenderung tergoda untuk memuaskan keinginannya sendiri, memperkaya diri sendiri dengan mengambil yang bukan menjadi haknya.

Bangsa Israel mempunyai aturan yang unik tentang sebuah keseimbangan. Dari kedua belas suku Israel, suku Lewi tidak mempunyai hak atas milik pusaka tanah perjanjian dan mengusahakan untuk penghidupannya. Mereka mempunyai tanggung jawab khusus asebagai pengurus rumah Tuhan dan hal-hal yang berhubungan dengan kerohanian umat Israel. Sebagai gantinya, Tuhan menetapkan bahwa mereka berhak mendapatkan penghidupan dari perpuluhan kesebelas suku Israel lainnya. (Bilangan 18:21) Aturan ini berlaku juga untuk kasus yang sedang kita bicarakan tentang buah ara. Inilah keseimabngan, “Sebab kamu dibebani bukanlah supaya orang-orang ;lain mendapat keringanan, tetapi supaya ada keseimbangan. Maka hendaklah sekarang ini kelebihan kamu mencukupkan kekurangan mereka, agar kelebihan mereka kemudian mencukupkan kekurangan kamu, supaya ada keseimbangan.” (2 Korintus 8:13-14)

Yesus tampaknya ingin mengatakan kepada kita bahwa orang-orang yang sudah dipercayai untuk menjadi pemilik dan pengelola pohon ara, atau pekerjaan apapun juga, harus melaksanakan tanggung jawabnya menjaga keseimbangan. Di sini Yesus menonjolkan tentang prinsip penatalayanan. Kita bisa membandingkan tindakan Yesus mengutuk pohon ara ini dengan perumpamaan tentang talenta. Ketika seseorang dipercayakan talenta kepadanya, ia harus mengelolanya untuk tuannya, bukan untuk diri sendiri. Itu adalah prinsip penatalayanan, menata apa yang sudah dipercayakan kepadanya dengan sikap hati sebagai penatalayan Tuhan.

2. Yesus mengingatkan supaya kita belajar mencukupkan dengan apa yang ada

Inilah kemungkinan kedua mengapa buah ara itu habis. Ada oknum orang Lewi atau orang berkekurangan yang memanfaatkan kesempatan dengan mengambil secara berlebihan. Merasa itu adalah haknya, golongan inipun merusak keseimbangan dengan melupakan bahwa yang berhak bukan hanya dia sendiri.

Buah ara segar hanya dapat bertahan sebentar. Menurut informasi, saat ini sekalipun ada alat pendingin, buah ara yang didinginkan hanya bisa bertahan 2-3 hari saja. Dengan demikian orang-orang yang memerlukannya saat lapar dalam perjalanan, cukup mengambil untuk dirinya pada hari itu.

Hamba-hamba Tuhan pada jaman ini yang mewakili keberadaan orang-orang Lewi pada kasus ini, harus belajar menerima kecukupan kebutuhan hidup keluarga dan pelayanannya tidak secara berlebihan. Bagaimana kita tahu kalau itu berkelebihan? Ketika kita memaksakan diri mememenuhi kebutuhan berdasarkan prestise dan bukan fungsi! Ketika kita berusaha menambahkan lebih dari pada jumlah yang kita butuhkan.

Demikian juga orang-orang berkekurangan harus belajar untuk tidak memanfaatkan kesempatan dari kebaikan hati orang yang mampu melaksanakan tanggung jawab penatalayanan yang baik, dengan menjadi orang yang bergantung tanpa memberikan kontribusi. Menjadi orang berkekurangan secara ekonomi, pengetahuan, dll, bukan berarti tidak mempunyai sesuatu yang dapat diberikan untuk mencukupkan orang lain lagi.

Jadi kalau Yesus mengutuk pohon ara hingga mati, siapakah yang akan merugi? Pertama, pemiliknya. Kedua orang-orang Lewi dan orang-orang berkekurangan. Tuhan tidak kejam. Karena Dialah yang memberikan hidup dan pertumbuhan kepada pohon ara itu, Dia pula yang berhak mengambil kehidupan itu kapan pun jika tidak lagi berguna sebagaimana tujuan semestinya. Terutama Tuhan ingin mengingatkan kita para pembaca, supaya kita melaksanakan apa yang menjadi tanggung jawab kita dengan baik!

Tags: , , ,

4 Responses to "YESUS Mengutuk Pohon Ara"

Leave a Comment