Posted by herys in Pertumbuhan Rohani | 0 comments
Pencobaan Terhadap Orang (Keluarga) Saleh
Kisah Ayub
Pertanyaan yang pernah saya dengar dari seorang Kristen adalah, “Apakah dosa kami?” Saat itu suaminya harus operasi jantung, anaknya yang bungsu juga harus operasi jantung, dan yang laki-laki harus operasi di bagian kepala. Kesulitan itu datang bertubi-tubi. Seorang Kristen lain juga menanyakan hal yang sama. “Ada apa dengan kami?” suaminya mengalami kecelakan kerja, tak lama kemudian terkena stroke. Belum lama sembuh dari stroke, terkena batu ginjal. Ibu itu sendiri juga didiagnosa terkena tumor di sinus, bola matanya mulai tidak bisa digerakkan, dan mulai mengecil. Padahal orang-orang ini saya tahu melayani di gereja, suka memberi, ringan kaki, ramah, suka bersaksi tentang Kristus. Apa yang salah dengan keluarga-keluarga ini?
Kisah yang jauh lebih tragis menimpa seorang tokoh bernama Ayub yang diperkirakan terjadi tiga ribu tahun yang lalu. Ia adalah orang yang bukan saja dikenal sebagai orang paling kaya, tetapi juga paling saleh di muka bumi. Seandainya pada saat itu media informasi sudah seperti sekarang ini, tentu selama berhari-hari, kisah kebangkrutan Ayub menjadi headline news yang selalu menarik untuk dikupas dari berbagai sudut pandang dan dalam berbagai jenis kacamata. Tetapi rupanya kisah itu hanya ditulis secara ‘lengkap’ dalam kitab Ayub yang menggunakan kacamata “rohani”. Mungkin karena menggunakan kacamata rohani itulah, jati diri Ayub menjadi sulit untuk dilacak.
Ayub dicobai dengan Penderitaan.
Menurut cerita tradisi dari Midrash dan Talmud, Ayub bukanlah orang Yahudi. Perkiraaan itu dikuatkan oleh pertanyaan Ayub yang mengutuki hari kelahirannya (3:1). Tindakan itu bukan merupakan kebiasaan orang Yahudi, melainkan kebiasaan orang – orang-orang yang tidak percaya pada kebangkitan. Mungkin Ayub pun tidak mempercayai kebangkitan, sehingga ia mengatakan “orang yang turun ke dalam dunia orang mati tidak akan muncul kembali” (7:9b). Ketidakpercayaan seperti itulah yang membuat penderitaan yang dialami Ayub terasa sangat berat.
Jika benar Ayub bukan orang Yahudi, bagaimana mungkin Ayub mempunyai dasar yang kokoh untuk bertahan pada kesalehannya dan tetap menjunjung tinggi kedaulatan Allah, ketika mengalami penderitaan yang hebat? Masih menurut cerita tradisi, Ayub adalah salah satu dari tiga penasihat Firaun, termasuk Yitro, ayah mertua Musa. Oleh karena itu dimungkinkan Ayub bergaul dengan orang-orang Israel di Mesir sejak ia masih kecil. Dari pergaulannya itulah ia mengenal Allah Israel. Terlebih lagi pada masa eksodus (masa keluarnya orang Israel dari Mesir), tampaknya Ayub lebih diyakinkan akan kemahakuasaan Allah.
Terlepas dari benar tidaknya cerita tradisi tersebut, Alkitab mencatat rekomendasi Allah tentang Ayub sebagai orang yang saleh, jujur, dan takut akan Allah, yang tidak dapat disamai oleh siapapun di muka bumi. Selain itu oleh nabi Yehezkiel, Ayub disejajarkandengan tokoh iman Nuh dan Daniel (Yeh 14:14,20). Sementara itu, Yakobus menyebut Ayub sebagai orang yang tekun dalam penderitaan karena pencobaan.
Fakta yang disodorkan oleh Alkitab memang menunjukkan penderitaan Ayub yang luar biasa beratnya. Orang yang berperingkat pertama dari daftar orang terkaya ini, harus kehilangan semua asset kekayaannya. Orang yang disebut berbahagia dengan keluarga besarnya itu, harus kehilangan kesepuluh anaknya. Orang yang disebut paling saleh dan jujur ini, harus menderita penyakit kulit yang menjijikkan dengan baunya yang busuk. Perubahan hidup yang sangat drastis. Semua orang dulu mengelu-elukannya karena kebaikan hatinya, kini bahkan menghinanya.
Harta bisa dicari, tetapi yang lebih menyedihkan adalah keluarganya berantakan. Setelah kehilangan semua anaknya, istrinya pun meninggalkannya. Manakah arti sebuah kesetiaan? Janji pernikahan untuk tetap bersama dalam sakit ataupun sehat, kaya ataupun miskin, susah ataupun senang, tak lagi ada artinya. Ia kini sendirian. Namun demikian, sejauh itu penderitaan Ayub, ia tetap menerima keadaannya dan tidak meninggalkan Allah.
Solidaritas yang Mengitimidasi
Di tengah situasi seperti itu, rupanya ada teman-teman Ayub dari “Organisasi Kaum Cendikiawan”, dimana Ayub juga menjadi anggotanya, menunjukkan solidaritas dan rasa kesetiakawanan. Mereka menunjukkan sikap peduli terhadap penderitaan Ayub, dan kalau mungkin, menjadi perantaraan pemulihan Ayub. Walaupun mereka sangat ingin segera berbicara ketika bertemu dengan Ayub, tetapi mereka juga menghargai “konvensi” yang berlaku tentang kunjungan penghiburan. Peraturan tak tertulis ini mengatakan: orang yang dihiburlah yang berhak memulai percakapan dan menentukan topik pembicaraan. Itulah sebabnya selama tujuh hari mereka diam, sampai akhirnya Ayub memulai berbicara. Saat Ayub berbicara pun, sesungguhnya perkataannya lebih ditujukan sebagai keluhan kepada Allah. Mengapa malapetaka dan penderitaan menimpa orang saleh seperti dia, seolah-olah Allah melawannya dengan keras secara tidak adil?
Mendengar keluhan Ayub, teman-temannya berusaha menunjukkan akar persoalannya, bahwa tidak ada penderitaan yang tidak disebabkan oleh dosa. Kesimpulannya, Ayub sedang mendapat penghukuman dari Allah karena kesalahannya. Mereka menyarankan supaya Ayub menyadari hal itu dan segera bertobat. Tetapi persoalannya, setelah Ayub menyelidiki hatinya, ia mendapati dirinya bersih dan tidak menyimpang.
Semula Ayub mau menerima keadaanya yang menderita, karena menurutnya yang beasal dari Allah, Allah juga yang berhak mengambilnya. Tetapi karena intimidasi lingkungannya, termasuk dari teman-temanya, supaya Ayub mengaitkan penderitaan tersebut dengan dosa, dia menjadi tidak mau menerimanya. Walaupun demikian, Ayub sempat ragu-ragu. Barangkali kesalahan-kesalahannya pada masa lampau masih diingat Tuhan, sekalipun dia sudah mempersembahkan korban bakaran kepada Allah (7.21), bahkan untuk kesalahan-kesalahan yang mungkin tidak diketahuinya (1:5).
Sadar bahwa orang lain mengaitkan penderitaanya dengan dosa yang diperbuatnya, dan itu didukung dengan keyakinan yang hidup pada saat itu bahkan hingga sekarang tentang hukum “berkat dan kutuk”: bahwa orang benar akan mendapat berkat dan orang fasik akan menerima kutuk; Ayub mengajukan perkara ini ke hadapan Allah. Ayub menggugat. Barangkali pula Ayub berpikir, jangan-jangan Allah salah mengidentifikasikan nama “Eyov” (=Ayub) dengan “Oyev” (=musuh), sehingga kutuk yang seharusnya menimpa Oyev, menjadi menimpa Eyov.
Hukum berkat dan kutuk telah memerangkap pikiran orang percaya bahwa Allah hanya bertindak secara mekanistis. Seperti mesin!
Allah Tidak Pernah Salah
Barangkali karena keragu-raguan Ayub itulah, Allah menjawab dari dalam badai. Dengan menggunakan pertanyaan-pertanyaan yang tidak memerlukan jawaban tentang alam semesta dan isinya, Allah seakan-akan bertanya kepada Ayub.”Apakah Aku kurang cermat dalam menciptakan alam semesta dan seisinya, sehingga hanya untuk membedakan Ovey dan Eyov pun tidak dapat?” Maksudnya, Allah pasti tidak salah identifikasi berkenaan dengan penderitaan yang dialami Ayub dan juga penderitaan yang mungkin dialami oleh orang-orang percaya lainnya.
Perhatikanlah awal kisah penderitaan Ayub pada kitab Ayub pasal yang pertama. Bermula dari upaya Iblis untuk menjatuhkan Ayub dari kehidupannya yang berkenan kepada Allah, dan kemudian Allah mengijinkan Iblis mencobai Ayub dengan menetapkan syarat. Syarat pertama, Iblis dilarang menjamah tubuh Ayub. Setelah pencobaan pertama gagal membuat Ayub mengingkari Allah, Iblis melancarkan serangan kedua yang juga diijinkan Allah dengan syarat: tidak boleh membunuhnya. Iblis tidak akan berani menerobos syarat yang telah ditentukan Allah. Syarat itulah sesungguhnya yang menjadi batas kekuatan Ayub menerima cobaan itu. Hal ini ditegaskan dalam 1 Korintus 10:13, bahwa Allah tidak akan membiarkan anak-Nya dicobai melampaui kekuatannya. Allah tahu batas kekuatan Ayub dan juga tahu batas kekuatan kita.
Menyadari hal itu, Ayub serta merta merendahkan diri di hadapan Allah dan mencabut semua keluhan dan keragu-raguannya terhadap Allah. Ayub kini memiliki perspektif yang baru dalam pengenalannya akan Allah secara benar bahwa Allah tidak dibatasi oleh hukum berkat dan kutuk, tetapi Dia adalah Allah yang hidup, dinamis, yang juga senantiasa berjaga di tengah penderitaan umat-Nya. Walaupun Allah tidak merencanakan pencobaan (Yak 1:13), tetapi Allah menggunakan keadaan itu untuk menguji dan memurnikan orang-orang yang takut kepada-Nya (Yak 1:12). Dan atas ketekunan Ayub dalam penderitaan, dan kesetiaan Ayub kepada Allah dengan tidak mengutuki Dia walaupun Allah Israel hanya dikenalnya melalui perkataan orang lain, Allah memulihkan keadaan Ayub seperti sediakala, bahkan memberikan kekayaan kepadanya berlipat ganda. Allah juga memberikan anak laki-laki dan perempuan sebagai ganti anak-anaknya yang telah mati.
Allah mempunyai saat yang Dia tetapkan untuk memulihkan! Melalui penderitaan juga, kita mengenal Allah labih baik. Mengenal secara pribadi, bukan berdasarkan kata orang.
Berkata-katalah dengan Benar tentang Penderitaan
Bagaimana dengan teman-teman Ayub yang mempunyai motivasi untuk menyatakan kepeduliannya terhadap penderitaan orang lain? Bahkan dalam nasihatnya kepada Ayub, ia seolah-olah membela Allah? Allah justru mempersalahkan mereka. “..maka firman TUHAN kepada Elifas, orang Teman: “Murka-Ku menyala terhadap engkau dan terhadap kedua sahabatmu, karena kamu tidak berkata benar tentang Aku seperti hamba-Ku Ayub.” (Ayub 42:7) Maksud mereka yang baik menjadi salah karena mereka tidak berkata-kata dengan benar tentang Allah dan Ayub. Pengenalan mereka tentang Allah yang berdasarkan hukum berkat dan kutuk, membuat mereka terjebak menilai Ayub sebagai orang yang bersalah. Dengan demikian sesungguhnya mereka telah memfitnah Ayub.
Ternyata tidak mudah menyatakan kepedulian kepada orang lain. Tidak mudah juga menasihati orang lain. Tetapi tidak berarti bahwa lebih baik tidak peduli, bukan? Asal tidak datang dengan rasa superior, mungkin kita dapat menunjukkan sikap peduli yang baik.

