Posted by herys in Mengasuh Anak | 0 comments
MENGARAHKAN ANAK PANAH
“Seperti anak-anak panah di tangan pahlawan, demikianlah anak-anak pada masa muda.” Mazmur 127:4
Anak panah akan mengarah sesuai bidikan pemanahnya. Terlebih yang melepaskan anak panah adalah pahlawan. Tak kan meleset! Seperti itulah anak-anak di tangan orang tuanya.
Apa yang dinyatakan dalam firman Tuhan ini menjelaskan betapa berat tangung jawab orang tua dalam mendidik anaknya. Namun tanggung jawab yang besar ini sekaligus memberikan sukacita yang besar ketika anak panah mengenai sasaran yang ditargetkan oleh Allah. Sebaliknya, jika dilepaskan menjauh dari target yang ditetapkan Allah maka akan menghasilkan penderitaan bagi orang tua, anak itu sendiri dan lingkungannya.
Tentang hal ini satu arahan penting yang diberikan Tuhan kepada orang tua tercatat dalam Efesus 6:4 “…bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan.”
Perhatikan bahwa perintah itu mengontraskan antara membangkitkan amarah dengan mendidik di dalam ajaran dan nasihat Tuhan. Dengan kata lain, membangkitkan amarah pada anak hanya akan menjauhkan anak dari target Allah.
Mengapa membangkitkan amarah pada anak akan menjauhkan anak dari target Allah? Gambaran tentang kebenaran tersebut terungkap melalui anak muda ini.
Ia mengusap air mata di wajahnya. Air mata kebencian yang dingin, pahit dan membuat frustasi. Kebencian atas masyarakat dan semua kekuasaan, terutama kekuasaan ayahnya dan gereja. Ia selalu ingat bagaimana pukulan kejam ayahnya sering menimpanya tanpa sebab. Bahkan saat itu ia tidak lagi bisa menangis ketika kepalan dan cambuk menghantam tubuhnya. Saat ini semuanya terasa lebih sakit ketika gereja mengasingkannya. Dalam sebuah sel kecil tanpa cahaya, tanpa alas selain jerami di atas batu-batu, hanya ditemani Peter si tikus yang seolah hanya satu-satunya teman yang mengerti tentangnya, dan kecoak-kecoak yang menyebarkan aroma pesing.
Semua ini ia jalani karena ia berpikir di luar apa yang diajarkan di seminarinya, Tylis Theological Seminary. Karena itu ia harus menjalani hukuman yang begitu keras. Hingga akhirnya ia dikeluarkan dari seminari. Soso, demikian teman-temannya memanggilnya, bertekat untuk menjadi pemimpin yang berkuasa. Dia selama ini ditindas oleh kekuasaan, dan sekarang ia ingin menaklukkannya. Kariernya di partai komunis menanjak begitu cepat. Dan orang yang lahir dengan nama Josep V. Dzugashvili ini dikenal dalam sejarah sebagai Joseph Stalin.
Stalin adalah orang terkejam selain Adolf Hitler, dan paling brutal yang pernah dicatat dalam sejarah. Ia bertanggung jawab atas kematian banyak manusia dari pada yang dilakukan orang lain, kecuali Hitler.
Seandainya ia mendapatkan kasih dan didikan dari ayahnya, dan disiplin yang benar dari seminarinya, mungkin ia akan menjadi pastor yang membawa banyak orang mengenal Kristus dan bukan sebaliknya membawa hampir seperempat dunia menjauhi Allah sebagai ateis dan komunis. (dikutip dari Failures who change history, Donald S. H. Besore)
Inilah faktanya: seorang anak tak punya kuasa untuk melawan kekuasaan yang besar atasnya. Dia mungkin tak berdaya melawan ayahnya ketika diperlakukan dengan buruk. Dia hanya bisa memendam kemarahan itu, memampatkannya hingga tekanan yang sangat tinggi. Dan meledak menjadi perlawanan kepada dunia ketika ia sudah merasa bisa hidup mandiri.
Kita para orang tua tentu tidak mau merugi pada masa tua kita, ketika anak-anak tidak lagi tinggal di rumah kita, dan kita hanya bisa memandang mereka dengan rasa sesal atas didikan yang kita berikan selagi mereka muda.
Tuhan mengingatkan hal ini selagi kita bisa mengubahnya sekarang. Atau … semua terlambat!

