Oct 17, 2009

Posted by herys in Perkawinan | 1 comment

Konflik Dalam Perkawinan

Konflik Dalam Perkawinan

Analisa kimia pada rambut Beethoven menunjukkan bahwa dia menderita keracunan timah hitam sehingga meninggal. Ini bisa jadi menjelaskan tentang penderitaannya akibat sakit dan sikap mudah marahnya yang meledak-ledak.Timah hitam berasal dari piring atau gelas yang ia gunakan selama bertahun-tahun, juga dari minuman anggur atau ikan yang berasal dari sungai yang terpolusi.

Seperti timah hitam yang menjadi penyebab kematian Beethoven, konflik yang tidak terselesaikan akan menumpuk menjadi racun yang mematikan bagi sebuah perkawinan. Perkawinan mungkin akan tetap tampak utuh, tetapi sesungguhnya hubungan itu sudah sangat rapuh. Perekatnya mungkin hanya  adanya anak-anak dan rasa malu terhadap perceraian.

Banyak faktor yang memungkinkan menghasilkan konflik. Perbedaan kepribadian, perbedaan tujuan hidup, perbedaan latar belakang sosial dan budaya, perbedaan kebiasaan, dan segudang perbedaan lain yang bisa didaftarkan antara suami dan istri. Perbedaan memang berpotensi menghasilkan konflik tapi juga berpotensi merekatkan hubungan. Menjadi konflik jika perbedaan itu tidak dipahami sebagai keunikan pasangan, melainkan sebagai keburukan yang harus dibereskan. Bukan diselaraskan tetapi dihilangkan.

Secara kodrati, laki-laki dan perempuan diciptakan Tuhan berbeda, baik secara biologis maupun emosional. Kemampuan memahami pasangan dapat menyelaraskan perbedaan yang berguna bagi pertumbuhan keduanya. (baca topik: Bagaimana memahami pasangan)

Jikalau perbedaan berpotensi menghasilkan konflik, maka tingkat pertumbuhan rohani merupakan penyubur atau penghambat konflik. Tingkat pertumbuhan rohani yang dimaksudkan tidak diukur dari umur seseorang, prestasi kerja, bahkan keterlibatan seseorang dalam pelayanan. Status seseorang sebagai hamba Tuhan  tidak serta merta menunjukkan tingkat pertumbuhan rohaninya. Tingkat pertumbuhan rohani ini adalah tingkat penyerapan kebenaran Allah yang dinyatakan melalui firman-Nya dan kemampuan seseorang untuk menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, sekalipun potensi konflik sangat besar, kesempatan untuk menjadi konflik dapat diredam jika seseorang mengalami pertumbuhan rohani.

Bagaimanakah kita dapat bertumbuh? Keberanian kita untuk terbuka kepada Tuhan menjadi langkah yang amat penting. “Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku;  lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!” Mazmur 139:23-24 Kesadaran ini akan membawa kita pada kerendahan hati untuk dibentuk oleh Tuhan menuju pertumbuhan rohani sebagaimana yang dikehendaki Tuhan.

Kelompok HomeBuilder akan sangat menolong pertumbuhan rohani kita, pasangan suami istri. Kita dapat mengikuti di tempat tinggal kita.

Bagaimanakah jika konflik sudah terjadi dan menjadi begitu akut, menyiksa, dan menjadikan rumah seolah neraka yang tidak mau kita tinggali? Jawabnya adalah pengampunan! Sebuah tindakan yang dapat dilakukan oleh semua orang, kaya maupun miskin, berpendidikan maupun tidak, tetapi sulit untuk dilakukan. Tanpa pengampunan, konflik akan menjadi racun yang terus menumpuk dan menghancurkan hubungan perkawinan. Kita harus mengampuni pasangan kita sebagaimana Tuhan sudah mengampuni kita. Sebaliknya kita harus mengambil langkah untuk meminta pengampun dari pasangan kita atas sikap permusuhan yang kita berikan.

Pengampunan adalah langkah penting untuk memulihkan sebuah hubungan yang rusak karena konflik. Jika kita berani mengambil langkah ini, maka jalan menjadi terbuka untuk menikmati pertumbuhan rohani dan kebahagiaan dalam keluarga.

Sebab itu kukatakan dan kutegaskan ini kepadamu di dalam Tuhan: Jangan hidup lagi sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan pikirannya yang sia-sia.” Efesus 4:17

Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google Bookmarks
  • Blogplay

Social Bookmarking

Artikel Terkait

  1. sering sebagai orang yang sudah lahir baru diperhadapkan dengan godaan dunia.

Leave a Reply