Keharmonisan Dalam Keluarga Di Tengah Kesulitan Hidup

Fakta

Banyak pernikahan yang bergumul atau bahkan hancur karena pasangan suami-istri tidak mampu menghadapi kesulitan hidup. Sebaliknya tidak sedikit pula  pasangan yang berpikir “kami tidak punya banyak masalah”,  padahal setiap orang memiliki masalah karena kebutuhan yang berbeda, dan tidak ada masalah sekecil apapun yang tidak penting. Anda pasti tahu bahwa kebakaran yang besar berasal dari sebuah puntung rokok? Persoalan yang besar sering berasal dari hal-hal yang sepele.

Masalah Utama

Masalah utama sesungguhnya terletak pada kita, dan bukan pada kesulitan yang kita hadapi. Pertama, kebanyakan dari antara kita tidak memiliki sikap yang benar dalam menghadapi pencobaan dan penderitaan. Kedua, kebanyakan dari antara kita tidak mau memikirkannya walaupun tahu suatu saat akan menghadapi penderitaan/pencobaan. Ketiga, sedikit orang di antara kita yang tahu bagaimana menghadapi kesulitan karena tidak mempersiapkan diri untuk menghadapinya jika hal itu tiba.

Kebenaran:

Yakubus 1:2-4  dikatakan, “Apabila (when) datang pencobaan…” bukan “jika (if) datang pencobaan….”. Ini berarti pencobaan atau penderitaan pasti akan menghampiri kita. Kita tidak bebas dari penderitaan. Jikalau kita beranggapan bahwa orang yang diberkati terbebas dari penderitaan, maka kita telah menyangkal Allah. Flp 1:29  Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia,

Jadi berbahagialah orang yang telah mempersiapkan diri untuk menghadapi jika penderitaan itu tiba. Kita dapat menarik pelajaran dari kisah berikut ini:

Pada bulan Juni 1995 Scott O Grady,  penerbang pesawat tempur F-16 Amerika tertembak jatuh oleh musuh di daerah utara Bosnia. Enam hari kemudian ia ditemukan oleh tim penyelamat helikopter marinir. Bangsa Amerika kagum pada kisahnya, bagaimana ia bertahan hidup dengan makan serangga, menampung air hujan untuk minum, dan menghindar dari pencarian tim pelacak Bosnia.

Keberhasilan Scott O Grady tak lepas dari latihan yang dia ikuti selama 17 hari untuk bertahan hidup di alam liar, dan menjaga sikap mental positif. Ia benar-benar telah siap menyambut penderitaan itu dan berhasil keluar.

Bersiap dengan memahami perspektif Allah tentang penderitaan

Dalam perspektif Allah, penderitaan yang kita alami selalu bermanfaat. Kita akan mengambil manfaat itu jika kita tahu cara kerja Allah dalam kehidupan pribadi kita dan keluarga kita. Sebaliknya kita akan mengalami penderitaan yang menyengsarakan dan berakhir sebagai orang yang kehilangan.

Sesungguhnya:

Allah memakai semuanya untuk kebaikan kita (Roma 8:28). Allah menguji kualitas iman kita sehingga Kristus dipermuliakan ( I Petrus 1:3-9). Saya memahami kebenaran ini melalui kisah sebuah seterika. Bertahun-tahun lamanya saya tidak memusingkan diri dengan pakaian yang akan saya kenakan. Hingga suatu saat orang yang membantu keluarga kami mengurus rumah memutuskan untuk hidup mandiri. Dan saya berbagi pekerjaan rumah dengan istri. Menyeterika adalah tugas saya. Saya baru sadar bahwa kami belum pernah mengganti seterika setelah lebih dari sepuluh tahun digunakan. Ah, rupanya merek yag kami gunakan mempunyai kualitas yang luar biasa. Saya tidak memperhatikannya bertahun-tahun, dan sekarang saya mengagumi pembuatnya. Kini bahkan saya mempromosikan merek tersebut kepada siapa saja yang membutuhkan, tanpa meminta bayaran kepada pembuatnya atas promosi yang saya lakukan. Demikian juga banyak orang akan kagum kepada Allah kita ketika kita teruji kualitas iman kita.

Dan Allah mempersiapkan kita untuk menerima berkat dalam kemuliaan-Nya  (1 Petrus 4:12-14)

Keyakinan kita

Tidak mudah untuk mempercayai janji Allah. Tetapi tidak mempercayai-Nya sama artinya kita mengatakan bahwa Diaberbohong! Allah tidak dapat berdusta. Yang harus kita lakukan adalah beriman pada janji Allah bahwa Dia menyediakan kekuatan yang kita butuhkan untuk menghadapi setiap situasi (Filipi 4:12-13; I Korintus 10”13). Dia juga menyediakan penghiburan bagi kita (2 Korintus 1:3-4), karena itu kita dapat bersukacita di tengah-tengah kesulitan yang menimpa.

Bersyukurlah kalau kita mempunyai pasangan. Masalah atau kesulitan akan lebih mudah dihadapi. Lebih dari itu, kesulitan yang dihadapi akan semakin mempererat hubungan kita dengan pasangan kita. Dengan kata lain, kesulitan adalah teman terbaik buat keharmonisan rumah tangga kita. Bersama, lebih berhasil! (Pengkhotbah 4:9)

Tags: ,

Leave a Comment