<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>FamilyLife &#187; Pertumbuhan Rohani</title>
	<atom:link href="http://www.lpmi.org/category/pertumbuhan-rohani/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.lpmi.org</link>
	<description>student movement</description>
	<lastBuildDate>Tue, 23 Feb 2010 03:54:03 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Pencobaan Terhadap Orang (Keluarga) Saleh</title>
		<link>http://www.lpmi.org/pencobaan-terhadap-orang-keluarga-saleh/</link>
		<comments>http://www.lpmi.org/pencobaan-terhadap-orang-keluarga-saleh/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Oct 2009 06:25:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>herys</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pertumbuhan Rohani]]></category>
		<category><![CDATA[ayub]]></category>
		<category><![CDATA[keluarag]]></category>
		<category><![CDATA[pencobaan]]></category>
		<category><![CDATA[saleh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lpmi.org/?p=197</guid>
		<description><![CDATA[Kisah Ayub
Pertanyaan yang pernah saya dengar dari seorang Kristen adalah, “Apakah dosa kami?” Saat itu suaminya harus operasi jantung, anaknya yang bungsu juga harus operasi jantung, dan yang laki-laki harus operasi di bagian kepala. Kesulitan itu datang bertubi-tubi. Seorang Kristen lain juga menanyakan hal yang sama. “Ada apa dengan kami?” suaminya mengalami kecelakan kerja, tak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kisah Ayub</p>
<p>Pertanyaan yang pernah saya dengar dari seorang Kristen adalah, “Apakah dosa kami?” Saat itu suaminya harus operasi jantung, anaknya yang bungsu juga harus operasi jantung, dan yang laki-laki harus operasi di bagian kepala. Kesulitan itu datang bertubi-tubi. Seorang Kristen lain juga menanyakan hal yang sama. “Ada apa dengan kami?” suaminya mengalami kecelakan kerja, tak lama kemudian terkena stroke. Belum lama sembuh dari stroke, terkena batu ginjal. Ibu itu sendiri juga didiagnosa terkena tumor di sinus, bola matanya mulai tidak bisa digerakkan, dan mulai mengecil. Padahal orang-orang ini saya tahu melayani di gereja, suka memberi, ringan kaki, ramah, suka bersaksi tentang Kristus. Apa yang salah dengan keluarga-keluarga ini?</p>
<p>Kisah yang jauh lebih tragis menimpa seorang tokoh bernama Ayub yang diperkirakan terjadi tiga ribu tahun yang lalu. Ia adalah orang yang bukan saja dikenal sebagai orang paling kaya, tetapi juga paling saleh di muka bumi. Seandainya pada saat itu media informasi sudah seperti sekarang ini, tentu selama berhari-hari, kisah kebangkrutan Ayub menjadi <em>headline news</em> yang selalu menarik untuk dikupas dari berbagai sudut pandang dan dalam berbagai jenis kacamata. Tetapi rupanya kisah itu hanya ditulis secara ‘lengkap’ dalam kitab Ayub yang menggunakan kacamata “rohani”. Mungkin karena menggunakan kacamata rohani itulah, jati diri Ayub menjadi sulit untuk dilacak.</p>
<p><strong>Ayub dicobai dengan Penderitaan</strong>.</p>
<p>Menurut cerita tradisi dari Midrash dan Talmud, Ayub bukanlah orang Yahudi. Perkiraaan itu dikuatkan oleh pertanyaan Ayub yang mengutuki hari kelahirannya (3:1). Tindakan itu bukan merupakan kebiasaan orang Yahudi, melainkan kebiasaan orang – orang-orang yang tidak percaya pada kebangkitan.  Mungkin Ayub pun tidak mempercayai kebangkitan, sehingga ia mengatakan “orang yang turun ke dalam dunia orang mati tidak akan muncul kembali” (7:9b). Ketidakpercayaan seperti itulah yang membuat penderitaan yang dialami  Ayub terasa sangat berat.</p>
<p>Jika benar Ayub bukan orang Yahudi, bagaimana mungkin Ayub mempunyai dasar yang kokoh untuk bertahan pada kesalehannya dan tetap menjunjung tinggi kedaulatan Allah, ketika mengalami penderitaan yang hebat? Masih menurut cerita tradisi, Ayub adalah salah satu dari tiga penasihat Firaun, termasuk Yitro, ayah mertua Musa. Oleh karena itu dimungkinkan Ayub bergaul dengan orang-orang Israel di Mesir sejak ia masih kecil. Dari pergaulannya itulah ia mengenal Allah Israel. Terlebih lagi pada masa eksodus (masa keluarnya orang Israel dari Mesir), tampaknya Ayub lebih diyakinkan akan kemahakuasaan Allah.</p>
<p>Terlepas dari benar tidaknya cerita tradisi tersebut, Alkitab mencatat rekomendasi Allah tentang Ayub sebagai orang yang saleh, jujur, dan takut akan Allah, yang tidak dapat disamai oleh siapapun di muka bumi. Selain itu oleh nabi Yehezkiel, Ayub disejajarkandengan tokoh iman Nuh dan Daniel (Yeh 14:14,20). Sementara itu, Yakobus menyebut Ayub sebagai orang yang tekun dalam penderitaan karena pencobaan.</p>
<p>Fakta yang disodorkan oleh Alkitab memang menunjukkan penderitaan Ayub yang luar biasa beratnya. Orang yang berperingkat pertama dari daftar orang terkaya ini, harus kehilangan semua <em>asset</em> kekayaannya. Orang yang disebut berbahagia dengan keluarga besarnya itu, harus kehilangan kesepuluh anaknya. Orang yang disebut paling saleh dan jujur ini, harus menderita penyakit kulit yang menjijikkan dengan baunya yang busuk. Perubahan hidup yang sangat drastis. Semua orang dulu mengelu-elukannya karena kebaikan hatinya, kini bahkan menghinanya.</p>
<p>Harta bisa dicari, tetapi yang lebih menyedihkan adalah keluarganya berantakan. Setelah kehilangan semua anaknya, istrinya pun meninggalkannya. Manakah arti sebuah kesetiaan? Janji pernikahan untuk tetap bersama dalam sakit ataupun sehat, kaya ataupun miskin, susah ataupun senang, tak lagi ada artinya. Ia kini sendirian. Namun demikian, sejauh itu penderitaan Ayub, ia tetap menerima keadaannya dan tidak meninggalkan Allah.</p>
<p><strong>Solidaritas yang Mengitimidasi</strong></p>
<p><strong> </strong>Di tengah situasi seperti itu, rupanya ada teman-teman Ayub dari “Organisasi Kaum Cendikiawan”, dimana Ayub juga menjadi anggotanya, menunjukkan solidaritas dan rasa kesetiakawanan. Mereka menunjukkan sikap peduli terhadap penderitaan Ayub, dan kalau mungkin, menjadi perantaraan pemulihan Ayub. Walaupun mereka sangat ingin segera berbicara ketika bertemu dengan Ayub, tetapi mereka juga menghargai “konvensi” yang berlaku tentang kunjungan penghiburan. Peraturan tak tertulis ini mengatakan: orang yang dihiburlah yang berhak memulai percakapan dan menentukan topik pembicaraan. Itulah sebabnya selama tujuh hari mereka diam, sampai akhirnya Ayub memulai berbicara. Saat Ayub berbicara pun, sesungguhnya perkataannya lebih ditujukan sebagai keluhan kepada Allah. Mengapa malapetaka dan penderitaan menimpa orang saleh seperti dia, seolah-olah Allah melawannya dengan keras secara tidak adil?</p>
<p>Mendengar keluhan Ayub, teman-temannya berusaha menunjukkan akar persoalannya, bahwa tidak ada penderitaan yang tidak disebabkan oleh dosa. Kesimpulannya, Ayub sedang mendapat penghukuman dari Allah karena kesalahannya. Mereka menyarankan supaya Ayub menyadari hal itu dan segera bertobat. Tetapi persoalannya, setelah Ayub menyelidiki hatinya, ia mendapati dirinya bersih dan tidak menyimpang.</p>
<p>Semula Ayub mau menerima keadaanya yang menderita, karena menurutnya yang beasal dari Allah, Allah juga yang berhak mengambilnya. Tetapi karena intimidasi lingkungannya, termasuk dari teman-temanya, supaya Ayub mengaitkan penderitaan tersebut dengan dosa, dia menjadi tidak mau menerimanya. Walaupun demikian, Ayub sempat ragu-ragu. Barangkali kesalahan-kesalahannya pada masa lampau masih diingat Tuhan, sekalipun dia sudah mempersembahkan korban bakaran kepada Allah (7.21), bahkan untuk kesalahan-kesalahan yang mungkin tidak diketahuinya (1:5).</p>
<p>Sadar bahwa orang lain mengaitkan penderitaanya dengan dosa yang diperbuatnya, dan itu didukung dengan keyakinan yang hidup pada saat itu bahkan hingga sekarang tentang hukum “berkat dan kutuk”: bahwa orang benar akan mendapat berkat dan orang fasik akan menerima kutuk; Ayub mengajukan perkara ini ke hadapan Allah. Ayub menggugat. Barangkali pula Ayub berpikir, jangan-jangan Allah salah mengidentifikasikan  nama “Eyov” (=Ayub) dengan “Oyev” (=musuh), sehingga kutuk yang seharusnya menimpa Oyev, menjadi menimpa Eyov.</p>
<p>Hukum berkat dan kutuk telah memerangkap pikiran orang percaya bahwa Allah hanya bertindak secara mekanistis. Seperti mesin!</p>
<p><strong>Allah Tidak Pernah Salah</strong></p>
<p>Barangkali karena keragu-raguan Ayub itulah, Allah menjawab dari dalam badai. Dengan menggunakan pertanyaan-pertanyaan yang tidak memerlukan jawaban tentang alam semesta dan isinya, Allah seakan-akan bertanya kepada Ayub.”Apakah Aku kurang cermat dalam menciptakan alam semesta dan seisinya, sehingga hanya untuk membedakan Ovey dan Eyov pun tidak dapat?” Maksudnya, Allah pasti tidak salah identifikasi berkenaan dengan penderitaan yang dialami Ayub dan juga penderitaan yang mungkin dialami oleh orang-orang percaya lainnya.</p>
<p>Perhatikanlah awal kisah penderitaan Ayub pada kitab Ayub pasal yang pertama. Bermula dari upaya Iblis untuk menjatuhkan Ayub dari kehidupannya yang berkenan kepada Allah, dan kemudian Allah mengijinkan Iblis mencobai Ayub dengan menetapkan syarat. Syarat pertama, Iblis dilarang menjamah tubuh Ayub. Setelah pencobaan pertama gagal membuat Ayub mengingkari Allah, Iblis melancarkan serangan kedua yang juga diijinkan Allah dengan syarat: tidak boleh membunuhnya. Iblis tidak akan berani menerobos syarat yang telah ditentukan Allah. Syarat itulah sesungguhnya yang menjadi batas kekuatan Ayub menerima cobaan itu. Hal ini ditegaskan dalam 1 Korintus 10:13, bahwa Allah tidak akan membiarkan anak-Nya dicobai melampaui kekuatannya. Allah tahu batas kekuatan Ayub dan juga tahu batas kekuatan kita.</p>
<p>Menyadari hal itu, Ayub serta merta merendahkan diri di hadapan Allah dan mencabut semua keluhan dan keragu-raguannya terhadap Allah. Ayub kini memiliki perspektif yang baru dalam pengenalannya akan Allah secara benar bahwa <strong>Allah tidak dibatasi </strong><strong>oleh hukum berkat dan kutuk,</strong> tetapi Dia adalah Allah yang hidup, dinamis, yang juga senantiasa berjaga di tengah penderitaan umat-Nya. Walaupun Allah tidak merencanakan pencobaan (Yak 1:13), tetapi Allah menggunakan keadaan itu untuk menguji dan memurnikan orang-orang yang takut kepada-Nya (Yak 1:12). Dan atas ketekunan Ayub dalam penderitaan, dan kesetiaan Ayub kepada Allah dengan tidak mengutuki Dia walaupun Allah Israel hanya dikenalnya melalui perkataan orang lain, Allah memulihkan keadaan Ayub seperti sediakala, bahkan memberikan kekayaan kepadanya berlipat ganda. Allah juga memberikan anak laki-laki dan perempuan sebagai ganti anak-anaknya yang telah mati.</p>
<p>Allah mempunyai saat yang Dia tetapkan untuk memulihkan! Melalui penderitaan juga, kita mengenal Allah labih baik. Mengenal secara pribadi, bukan berdasarkan kata orang.</p>
<p><strong>Berkata</strong><strong>-katalah dengan Benar tentang Penderitaan</strong></p>
<p>Bagaimana dengan teman-teman Ayub yang mempunyai motivasi untuk menyatakan kepeduliannya terhadap penderitaan orang lain? Bahkan dalam nasihatnya kepada Ayub, ia seolah-olah membela Allah? Allah justru mempersalahkan mereka. “..maka firman TUHAN kepada Elifas, orang Teman: &#8220;Murka-Ku menyala terhadap engkau dan terhadap kedua sahabatmu, karena kamu tidak berkata <span style="text-decoration: underline;">benar</span> tentang Aku seperti hamba-Ku Ayub.” (Ayub 42:7) Maksud mereka yang baik menjadi salah karena mereka tidak berkata-kata dengan benar tentang Allah dan Ayub. Pengenalan mereka tentang Allah yang berdasarkan hukum berkat dan kutuk, membuat mereka terjebak menilai Ayub sebagai orang yang bersalah. Dengan demikian sesungguhnya mereka telah memfitnah Ayub.</p>
<p>Ternyata tidak mudah menyatakan kepedulian kepada orang lain. Tidak mudah juga menasihati orang lain. Tetapi tidak berarti bahwa lebih baik tidak peduli, bukan? Asal tidak datang dengan rasa superior, mungkin kita dapat menunjukkan sikap peduli yang baik.</p>
<br/><a href="http://www.Tagenie.com/submit.php?url=http://www.lpmi.org/pencobaan-terhadap-orang-keluarga-saleh/&title=Pencobaan+Terhadap+Orang+%28Keluarga%29+Saleh" target="_blank"><img src="http://www.Tagenie.com/bookmark.gif" border="0" alt="Social Bookmarking" title="Pencobaan Terhadap Orang (Keluarga) Saleh" /></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.lpmi.org/pencobaan-terhadap-orang-keluarga-saleh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Membangun Keluarga Di Atas Batu</title>
		<link>http://www.lpmi.org/membangun-keluarga-di-atas-batu/</link>
		<comments>http://www.lpmi.org/membangun-keluarga-di-atas-batu/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Oct 2009 15:54:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>herys</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pertumbuhan Rohani]]></category>
		<category><![CDATA[batu]]></category>
		<category><![CDATA[keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[membangun]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lpmi.org/?p=165</guid>
		<description><![CDATA[Membangun perkawinan yang diberkati Kristus sama seperti orang bijaksana yang mendirikan rumahnya di atas batu. Ketika hujan, angin, dan banjir melanda, rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu.
Diberkati Kristus bukan sekedar perkawinan yang dilaksanakan di gedung gereja, tetapi perkawinan yang dilakukan oleh laki-laki dan perempuan yang seimbang. Seimbang di sini menunjuk pada apa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Membangun perkawinan yang diberkati Kristus sama seperti orang bijaksana yang mendirikan rumahnya di atas batu. Ketika hujan, angin, dan banjir melanda, rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu.</p>
<p>Diberkati Kristus bukan sekedar perkawinan yang dilaksanakan di gedung gereja, tetapi perkawinan yang dilakukan oleh laki-laki dan perempuan yang seimbang. Seimbang di sini menunjuk pada apa yang tertulis dalam Alkitab, ” Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap?” 2 Korintus 6:14. Memaksakan hanya sekedar melangsungkan perkawinan di gereja tidak menjadikan perkawinan itu diberkati Kristus, jika salah satu atau keduanya tidak dalam posisi telah <strong>dipindahkan</strong> dari kerajaan gelap menuju kerajaan terang seperti tertulis dalam Efesus 5:8  “Memang dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan.”</p>
<p>Tidak sedikit orang menikah di gereja hanya sekedar untuk syarat dapat menikahi pria atau wanita Kristen dan setelah itu terjadi pengingkaran terhadap Kristus. Yang terjadi berikutnya hanyalah kisah penderitaan atau rumah tangga itu tersapu bersih seperti rumah yang dibangun di atas pasir yang terkena hujan badai.</p>
<p>Keyakinan adanya hubungan yang benar dengan TUHAN melalui Kristus merupakan pondasi yang benar dalam perkawinan. Perkawinan bukan sekedar penyatuan fisik tapi juga jiwa. Penyatuan fisik dapat dilakukan oleh siapa saja (sesungguhnya itu bukan penyatuan yang sesungguhnya) tetapi penyatuan jiwa dan roh hanya terjadi karena karya Roh Kudus. Oleh karena itu Kristus secara tegas mengatakan tentang mereka yang perkawinannya diberkati Kristus, “Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.&#8221; Mat 19:6</p>
<p>Perhatikan gambar berikut ini:</p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-164" title="ONENESS" src="http://lpmi.org/wp-content/uploads/2009/10/ONENESS.gif" alt="ONENESS Membangun Keluarga Di Atas Batu" width="411" height="189" /></p>
<p>Menjadi satu hanya dapat terjadi ketika kedua-duanya telah menjadi manusia terang  karena menerima dengan iman penebusan yang dilakukan oleh Kristus Yesus. Penebusan itu yang menyebabkan seseorang kembali memiliki hubungan dengan Allah dan berpotensi untuk berada dalam otoritas Allah senantiasa. Alkitab menggambarkan hubungan dan otoritas itu sebagai berikut. “Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.” Yohanes 15:5</p>
<p>Karena masing-masing terhubung dengan Allah, maka ada penyelaras yang menjadikan perbedaan di antara pasangan tersebut menjadi satu.</p>
<p>Jika saudara belum yakin terhadap hubungan saudara dengan Allah, klik <a href="http://lpmi.org/mengenal-allah-secara-pribadi/">Mengenal Allah Secara Pribadi</a>.</p>
<br/><a href="http://www.Tagenie.com/submit.php?url=http://www.lpmi.org/membangun-keluarga-di-atas-batu/&title=Membangun+Keluarga+Di+Atas+Batu" target="_blank"><img src="http://www.Tagenie.com/bookmark.gif" border="0" alt="Social Bookmarking" title="Membangun Keluarga Di Atas Batu" /></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.lpmi.org/membangun-keluarga-di-atas-batu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>YESUS Mengutuk Pohon Ara</title>
		<link>http://www.lpmi.org/yesus-mengutuk-pohon-ara/</link>
		<comments>http://www.lpmi.org/yesus-mengutuk-pohon-ara/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Oct 2009 06:42:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>herys</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pertumbuhan Rohani]]></category>
		<category><![CDATA[ara]]></category>
		<category><![CDATA[mengutuk]]></category>
		<category><![CDATA[pohon]]></category>
		<category><![CDATA[Yesus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lpmi.org/?p=140</guid>
		<description><![CDATA[Sebuah pelajaran bagi penatalayanan keluarga
Matius 21:19-20
Dekat jalan Ia melihat pohon ara lalu pergi ke situ, tetapi Ia tidak mendapat apa-apa pada pohon itu selain daun-daun saja. Kata-Nya kepada pohon itu:”Engkau tidak akan berbuah lagi selama-lamanya!” Dan seketika itu juga keringlah pohon ara itu. Melihat kejadian itu tercenganglah murid-murid-Nya, lalu berkata: ”Bagaimana mungkin pohon itu sekonyong-konyong [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Sebuah pelajaran bagi penatalayanan keluarga</strong></p>
<p><strong>Matius 21:19-20</strong></p>
<p>Dekat jalan Ia melihat pohon ara lalu pergi ke situ, tetapi Ia tidak mendapat apa-apa pada pohon itu selain daun-daun saja. Kata-Nya kepada pohon itu:”Engkau tidak akan berbuah lagi selama-lamanya!” Dan seketika itu juga keringlah pohon ara itu. Melihat kejadian itu tercenganglah murid-murid-Nya, lalu berkata: ”Bagaimana mungkin pohon itu sekonyong-konyong menjadi kering?”</p>
<p>Pohon ara yang dikutuk itu tiba-tiba menjadi kering! (pemaparan Markus, keringnya pohon ara tersebut baru diketahui esok harinya.) Peristiwa itu pasti akan mengejutkan siapapun yang menyaksikannya, demikian juga murid-murid Yesus. Dan ternyata pertanyaan yang muncul dari murid-murid-Nya merupakan pertanyaan umum yang akan ditanyakan semua orang yang menyaksikannya, dan itu berasal dari ketakjuban mereka, sesuatu yang mustahil secara akal,  ”Bagaimana mungkin?”</p>
<p><span id="more-140"></span>Yesus akhirnya mengajarkan tentang iman sebagai jawabannya. Tetapi kali ini saya tidak membahas tentang iman, karena sesungguhnya ada sebuah pertanyaan yang menggelitik si balik peristiwa itu dan sering disalah-pahami para pembaca Alkitab. Mengapa Yesus memilih mengutuki pohon ara dari pada memberkati sehingga berbuah dan bermanfaat? Bukankah itu hanya akan memberikan gambaran yang kejam tentang Tuhan? Pengajaran apakah sesungguhnya yang ingin Ia sampaikan tetapi tidak pernah Ia jelaskan?</p>
<p><strong>Pohon ara lambang kemakmuran</strong></p>
<p>Menurut ensiklopedi Wikipedia, ada 800-an jenis pohon ara, namun ada tiga jenis yang menonjol dalam peristiwa di Alkitab yaitu ara Ficus Sycomorus, ara Morus Nigra L, dan ara Ficus Carica L. Jenis terakhir inilah yang diperkirakan di kutuk oleh Yesus sesuai Matius 21:19-22.</p>
<p>Penting untuk kita pahami bahwa pohon ara sering dihubungkan dengan janji-janji Allah tentang kemakmuran (Zakaria 3:10; 1 Raja-raja 4:25). Ada pepatah yang menggambarkan orang-orang yang makmur adalah orang yang ”berdiam masing-masing di bawah pohon anggur dan pohon aranya.” Buah ara di samping pohon anggur menjadi komoditas ekonomi yang berharga. Pada zaman Yunani buah ara dipandang sebagai begitu penting untuk perekonomiannya sehingga orang Yunani membuat undang-undang khusus untuk mengatur pengeksporannya. Daunnya dapat dimanfaatkan untuk membungkus buah-buahan yang baru dipetik untuk dibawa ke pasar dan sekarang ini menjadi komoditas yang mahal. Buah ara selain dapat dimakan langsung, juga dapat dibuat kue yang mahal harganya, karena makanan inipun biasa dihidangkan bagi raja-raja. (2Raja-raja 20:7; Yesaya 38:27). Jenis pohon ara yang dikutuk oleh Yesus dapat memberi buah selama kurang lebih 10 bulan setiap tahunnya.</p>
<p>Jikalau pohon ara mempunyai nilai ekonomi yang tinggi dan menjadi sumber penghidupan, mungkin kita dapat membandingkannya dengan pekerjaan-pekerjaan kita pada masa kini. Pada masa kini, pekerjaan kita menjadi sumber penghidupan. Kemakmuran secara ekonomi seseorang diukur dengan penghasilannya dari pekerjaan yang dimiliki. Bagi sebuah negara, semakin tinggi pendapatan nasionalnya semakin makmur bangsa itu.</p>
<p><strong>Tidak semua buah menjadi hak pemiliknya</strong></p>
<p>Yang menarik adalah ternyata dalam masa berbuah setiap tahun tersebut, berlangsung dalam tiga tahap atau tiga musim.</p>
<p>Tahap pertama disebut ”musim buah bikurah” atau ”buah sulung”. Ensiklopedi Alkitab menyebutnya sebagai buah ara hijau. Orang Israel mempunyai ketetapan bahwa buah sulung itu milik Tuhan.</p>
<p>Tahap kedua disebut ”musim buah ara” atau juga musim buah ara bungaran, rasanya segar dan enak serta buahnya paling banyak. Pada musim buah ara, pemilik pohon berhak memanfaatkannya untuk penghidupannya. Ini berarti menjadi komoditas ekonomi.</p>
<p>Pada saat Tuhan Yesus mengutuk pohon ara, tahap berbuah ini atau ”musim buah ara” sudah lewat. Markus mencatatnya dengan tepat ”&#8230;Tetapi waktu Ia tiba di situ, Ia tidak mendapat apa-apa selain daun-daun saja, sebab memang bukan musim buah ara.” (Markus 11:13). Pernyataan Markus ini jika tidak dipahami dengan benar maka pembaca akan melihat sifat Yesus yang sewenang-wenang. Kalau memang bukan musim buah ara mengapa marah dan mengutuk ketika tidak menemukan buahnya?</p>
<p>Sebagai orang yang mau belajar, kita harus melihat bahwa kalau Yesus marah mendapati pohon ara sudah tidak ada buahnya, pasti ada alasannya. Alasannya adalah, seharusnya masih ada buah ara, karena setelah musim buah ara lewat, pohon masih tetap menghasilkan buah dengan memasuki musim berbuah tahap ketiga.</p>
<p>Tahap ketiga disebut ”musim buah pag”. Pada musim ini pohon tidak menghasilkan buah sebanyak dan sesegar musim buah ara. Orang-orang Israel menetapkan bahwa pada musim ini pemilik tidak boleh mengambil buahnya. Buah ini merupakan hak dari orang-orang Lewi dan orang-orang berkekurangan. Hak itu pun hanya dapat dimanfaatkan oleh mereka bukan untuk disimpan sebagai cadangan makanan, tetapi diambil secukupnya untuk kebutuhan saat itu, maupun pada saat dalam perjalanan. Buah ara memang tidak dapat tahan lama setelah dipetik. Tampaknya Yesus datang mencari buah ara pada musim buah tahap ketiga ini, dan Ia sudah tidak menemukan apa-apa.</p>
<p><strong>PELAJARAN</strong></p>
<p><strong>1. Yesus ingin kita menjadi penatalayan yang baik</strong></p>
<p>Mengapa buah pada musim buah pag sudah habis? Ada dua alasan yang mungkin terjadi. Pertama, pemiliknya mengabaikan aturan yang mengharuskan buah pada tahap ketiga ini untuk orang Lewi dan orang berkekurangan. Mereka memanennya untuk diri sendiri. Di sini kita melihat sifat manusia yang cenderung tergoda untuk memuaskan keinginannya sendiri, memperkaya diri sendiri dengan mengambil yang bukan menjadi haknya.</p>
<p>Bangsa Israel mempunyai aturan yang unik tentang sebuah keseimbangan. Dari kedua belas suku Israel, suku Lewi tidak mempunyai hak atas milik pusaka tanah perjanjian dan mengusahakan untuk penghidupannya. Mereka mempunyai tanggung jawab khusus asebagai pengurus rumah Tuhan dan hal-hal yang berhubungan dengan kerohanian umat Israel. Sebagai gantinya, Tuhan menetapkan bahwa mereka berhak mendapatkan penghidupan dari perpuluhan kesebelas suku Israel lainnya. (Bilangan 18:21) Aturan ini berlaku juga untuk kasus yang sedang kita bicarakan tentang buah ara. Inilah keseimabngan, “Sebab kamu dibebani bukanlah supaya orang-orang ;lain mendapat keringanan, tetapi supaya ada keseimbangan. Maka hendaklah sekarang ini kelebihan kamu mencukupkan kekurangan mereka, agar kelebihan mereka kemudian mencukupkan kekurangan kamu, supaya ada keseimbangan.” (2 Korintus 8:13-14)</p>
<p>Yesus tampaknya ingin mengatakan kepada kita bahwa orang-orang yang sudah dipercayai untuk menjadi pemilik dan pengelola pohon ara, atau pekerjaan apapun juga, harus melaksanakan tanggung jawabnya menjaga keseimbangan. Di sini Yesus menonjolkan tentang prinsip penatalayanan. Kita bisa membandingkan tindakan Yesus mengutuk pohon ara ini dengan perumpamaan tentang talenta. Ketika seseorang dipercayakan talenta kepadanya, ia harus mengelolanya untuk tuannya, bukan untuk diri sendiri. Itu adalah prinsip penatalayanan, menata apa yang sudah dipercayakan kepadanya dengan sikap hati sebagai penatalayan Tuhan.</p>
<p><strong>2. Yesus mengingatkan supaya kita belajar mencukupkan dengan apa yang ada</strong></p>
<p>Inilah kemungkinan kedua mengapa buah ara itu habis. Ada oknum orang Lewi atau orang berkekurangan yang memanfaatkan kesempatan dengan mengambil secara berlebihan. Merasa itu adalah haknya, golongan inipun merusak keseimbangan dengan melupakan bahwa yang berhak bukan hanya dia sendiri.</p>
<p>Buah ara segar hanya dapat bertahan sebentar. Menurut informasi, saat ini sekalipun ada alat pendingin, buah ara yang didinginkan hanya bisa bertahan 2-3 hari saja. Dengan demikian orang-orang yang memerlukannya saat lapar dalam perjalanan, cukup mengambil untuk dirinya pada hari itu.</p>
<p>Hamba-hamba Tuhan pada jaman ini yang mewakili keberadaan orang-orang Lewi pada kasus ini, harus belajar menerima kecukupan kebutuhan hidup keluarga dan pelayanannya tidak secara berlebihan. Bagaimana kita tahu kalau itu berkelebihan? Ketika kita memaksakan diri mememenuhi kebutuhan berdasarkan prestise dan bukan fungsi! Ketika kita berusaha menambahkan lebih dari pada jumlah yang kita butuhkan.</p>
<p>Demikian juga orang-orang berkekurangan harus belajar untuk tidak memanfaatkan kesempatan dari kebaikan hati orang yang mampu melaksanakan tanggung jawab penatalayanan yang baik, dengan menjadi orang yang bergantung tanpa memberikan kontribusi. Menjadi orang berkekurangan secara ekonomi, pengetahuan, dll, bukan berarti tidak mempunyai sesuatu yang dapat diberikan untuk mencukupkan orang lain lagi.</p>
<p>Jadi kalau Yesus mengutuk pohon ara hingga mati, siapakah yang akan merugi? Pertama, pemiliknya. Kedua orang-orang Lewi dan orang-orang berkekurangan. Tuhan tidak kejam. Karena Dialah yang memberikan hidup dan pertumbuhan kepada pohon ara itu, Dia pula yang berhak mengambil kehidupan itu kapan pun jika tidak lagi berguna sebagaimana tujuan semestinya. Terutama Tuhan ingin mengingatkan kita para pembaca, supaya kita melaksanakan apa yang menjadi tanggung jawab kita dengan baik!</p>
<br/><a href="http://www.Tagenie.com/submit.php?url=http://www.lpmi.org/yesus-mengutuk-pohon-ara/&title=YESUS+Mengutuk+Pohon+Ara" target="_blank"><img src="http://www.Tagenie.com/bookmark.gif" border="0" alt="Social Bookmarking" title="YESUS Mengutuk Pohon Ara" /></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.lpmi.org/yesus-mengutuk-pohon-ara/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengenal ALLAH Secara Pribadi</title>
		<link>http://www.lpmi.org/mengenal-allah-secara-pribadi/</link>
		<comments>http://www.lpmi.org/mengenal-allah-secara-pribadi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 20 Oct 2008 15:56:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>herys</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pertumbuhan Rohani]]></category>
		<category><![CDATA[mengenal ALLAH]]></category>
		<category><![CDATA[mengenal ALLAH pribadi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lpmi.org/?p=168</guid>
		<description><![CDATA[ 
Sebagaimana ada hukum-hukum alam yang mengatur alam ini, demikian juga ada hukum yang mengatur hubungan saudara dengan TUHAN Allah.



HUKUM YANG   PERTAMA


TUHAN ALLAH MENGASIHI SAUDARA, DAN MEMPUNYAI SUATU RENCANA YANG INDAH BAGI HIDUP SAUDARA.



KASIH ALLAH
&#8220;Karena begitu kasih Allah akan dunia ini, sehingga la telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong> </strong></p>
<p>Sebagaimana ada hukum-hukum alam yang mengatur alam ini, demikian juga ada hukum yang mengatur hubungan saudara dengan TUHAN Allah.</p>
<table border="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td width="99%">HUKUM YANG   PERTAMA</td>
</tr>
<tr>
<td width="99%">TUHAN ALLAH <strong>MENGASIHI</strong> SAUDARA, DAN MEMPUNYAI SUATU <strong>RENCANA</strong> YANG INDAH BAGI HIDUP SAUDARA.</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><strong>KASIH ALLAH</strong><br />
&#8220;Karena begitu kasih Allah akan dunia ini, sehingga la telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal&#8221;  <strong><br />
Yohanes 3:16.</strong></p>
<p><strong>RENCANA ALLAH</strong><br />
(Kristus berkata), &#8220;Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan&#8221; (suatu kehidupan yang berarti dan penuh kebahagiaan)  <strong><br />
Yohanes 10:10b.</strong></p>
<p><em>Apakah sebabnya banyak orang tidak pernah mengalami kehidupan yang berkelimpahan dan penuh kebahagiaan ini?</em><em> </em></p>
<p><em>Sebab</em></p>
<table border="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td width="99%">HUKUM YANG   KEDUA</td>
</tr>
<tr>
<td width="99%">MANUSIA <strong>PENUH DOSA</strong> DAN <strong>TERPISAH</strong> DARI TUHAN   ALLAH, SEHINGGA IA TIDAK DAPAT MENGETAHUI DAN MENGALAMI KASIH DAN RENCANA   ALLAH BAGI HIDUPNYA.</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><strong>MANUSIA PENUH DOSA</strong></p>
<p>&#8220;Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah&#8221;<br />
<strong>Roma 3:23</strong></p>
<p>Manusia diciptakan untuk bersekutu dengan Tuhan Allah, akan tetapi karena kekerasan hatinya, ia memilih jalannya sendiri sehingga persekutuannya dengan Tuhan Allah terputus. Menurut Alkitab, kekerasan hati untuk memilih jalan sendiri dan ingin bebas dari Tuhan Allah disebut <em>dosa</em> dan diwujudkan, baik dengan sikap melawan maupun dengan sikap masa bodoh.</p>
<p><strong>MANUSIA TERPISAH DARI TUHAN ALLAH</strong></p>
<p>&#8220;Sebab upah dosa ialah maut . . .&#8221; (terpisah dari Allah untuk selama-lamanya)<br />
<strong>Roma 6:23 </strong></p>
<p>Tuhan Allah Maha Suci, sedangkan manusia penuh dosa. Karena itu ada satu jurang pemisah antara Tuhan Allah dengan manusia. Manusia selalu berusaha untuk mencari Tuhan Allah dan kehidupan yang penuh kebahagiaan melalui usahanya sen diri yaitu kehidupan yang baik, etika, filsafat dan lain-lain, namun gagal disebabkan karena dosanya.</p>
<p><em>Hukum yang ketiga memberikan kita jalan ke luar dari kesulitan ini.</em><em> </em></p>
<p><em> </em></p>
<table border="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td width="99%">HUKUM YANG   KETIGA</td>
</tr>
<tr>
<td width="99%">YESUS KRISTUS ADALAH <strong>SATU-SATUNYA</strong> JALAN KESELAMATAN   YANG TELAH DITENTUKAN OLEH TUHAN ALLAH UNTUK KEAMPUNAN DOSA MANUSIA, MELALUI   DIA SAUDARA DAPAT MENGETAHUI DAN MENGALAMI KASIH DAN RENCANA ALLAH BAGI   SAUDARA.</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><strong>KRISTUS MATI GANTI KITA</strong></p>
<p>&#8220;Akan tetapi Allah menunjukkan kasihNya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa&#8221;<br />
<strong>Roma 5:8</strong></p>
<p><strong>KRISTUS TELAH BANGKIT PULA DARI KEMATIAN</strong></p>
<p>&#8220;&#8230;..Kristus telah mati karena dosa kita&#8230;la telah dikuburkan&#8230;Ia telah dibangkitkan pada hari yang ketiga sesuai dengan Kitab Suci,&#8230;la telah menampakkan diri kepada Kefas dan kemudian kepada kedua belas muridNya. Sesudah itu la menampakkan diri kepada lebih dari 500 saudara sekaligus.&#8221;<br />
<strong>1 Korintus 15:3-6</strong></p>
<p><strong>KRISTUS ADALAH SATU-SATUNYA JALAN</strong></p>
<p>Kata Yesus kepadanya, &#8220;Akulah Jalan dan Kebenaran dan Hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku&#8221;<br />
<strong>Yohanes 14:6</strong></p>
<p>Allah telah menjembatani jurang pemisah antara manusia dengan DiriNya dengan mengirimkan AnakNya, Yesus Kristus, untuk mati di kayu salib menggantikan kita.</p>
<p><em>Tidak cukup hanya mengetahui ketiga hukum ini . . .</em><em> </em></p>
<table border="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td width="99%">HUKUM YANG   KEEMPAT</td>
</tr>
<tr>
<td width="99%">KITA HARUS <strong>MENERIMA</strong> YESUS KRISTUS MENJADI   JURUSELAMAT DAN TUHAN KITA, DENGAN MENGUNDANGNYA SECARA PRIBADI. DENGAN   DEMIKIAN KITA DAPAT MENGETAHUI DAN MENGALAMI KASIH DAN RENCANA ALLAH BAGI   HIDUP KITA.</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><strong>KITA HARUS MENERIMA KRISTUS</strong></p>
<p>&#8220;Tetapi semua orang yang menerimaNya diberiNya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam namaNya&#8221;<br />
<strong>Yohanes 1:12</strong></p>
<p><strong>KITA MENERIMA KRISTUS DENGAN IMAN</strong></p>
<p>&#8220;Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu, jangan ada orang yang memegahkan diri&#8221;<br />
<strong>Efesus 2:8,9</strong></p>
<p><strong>KITA MENERIMA KRISTUS, DENGAN MENGUNDANGNYA SECARA PRIBADI</strong></p>
<p>(Kristus berkata, &#8220;Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetuk, jikalau ada orang yang mendengar suaraKu dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya&#8230;.&#8221;<br />
<strong>Wahyu 3:20</strong></p>
<p><em>Menerima Kristus</em> berarti berpaling dari diri sendiri kepada Tuhan Allah, serta menyerahkan seluruh pribadi kita, yaitu akal budi, perasaan dan kemauan. Karena itu tidak cukup hanya mengerti ajaran Kristus dengan akal kita saja atau menanggapinya berdasarkan perasaan semata-mata; kita harus mengambil tindakan berdasarkan kemauan kita, untuk menyerahkan setiap segi kehidupan kita dikuasai oleh Yesus Kristus.</p>
<p><strong>SEBAGAI SATU TINDAKAN KEMAUAN, SAUDARA DAPAT MENERIMA KRISTUS SEKARANG INI JUGA DENGAN DOA BERDASARKAN IMAN.</strong> (Doa adalah percakapan dengan Tuhan)</p>
<p>Berdoalah dengan kata-kata saudara sendiri. Tuhan Allah mengetahui isi hati saudara dan tidak bergantung pada kata-kata saudara. Berikut ini adalah satu saran doa:</p>
<table border="1" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td><strong>&#8220;Tuhan Yesus, saya memerlukan Dikau. Saya membuka   pintu hatiku dan menerima Dikau sebagai Juruselamat dan Tuhanku. Terima   kasih, karena Tuhan telah mangampuni dosa-dosaku. Kuasailah tahta hatiku.   Bentuklah saya menjadi seorang pribadi yang sesuai dengan kehendak Tuhan.   Amin.&#8221;</strong></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Apakah doa ini menyatakan keinginan hati saudara? Kalau saudara berdoa dengan iman dan mengundang Kristus untuk menguasai hidup saudara, apakah yang akan terjadi? Jika demikian, ucapkanlah doa ini sekarang juga, maka Kristus akan masuk ke dalam hati dan hidup saudara sebagaimana telah dijanjikan Nya.</p>
<br/><a href="http://www.Tagenie.com/submit.php?url=http://www.lpmi.org/mengenal-allah-secara-pribadi/&title=Mengenal+ALLAH+Secara+Pribadi" target="_blank"><img src="http://www.Tagenie.com/bookmark.gif" border="0" alt="Social Bookmarking" title="Mengenal ALLAH Secara Pribadi " /></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.lpmi.org/mengenal-allah-secara-pribadi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
