<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>FamilyLife &#187; Perkawinan</title>
	<atom:link href="http://www.lpmi.org/category/perkawinan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.lpmi.org</link>
	<description>student movement</description>
	<lastBuildDate>Tue, 23 Feb 2010 03:54:03 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Memperkuat Citra Diri</title>
		<link>http://www.lpmi.org/memperkuat-citra-diri/</link>
		<comments>http://www.lpmi.org/memperkuat-citra-diri/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Feb 2010 03:50:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>herys</dc:creator>
				<category><![CDATA[Perkawinan]]></category>
		<category><![CDATA[citra diri]]></category>
		<category><![CDATA[memperkuat citra diri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.lpmi.org/?p=214</guid>
		<description><![CDATA[“Sebab itu terimalah satu akan yang lain, sama seperti Kristus juga telah menerima kita, untuk kemuliaan Allah.”
Roma 15:7
Kemampuan untuk menerima orang lain menunjukkan kemampuan kita untuk menerima diri sendiri. Penolakan terhadap kekurangan atau kelebihan orang lain memberi gambaran kepada kita bagaimana kita menghargai diri sendiri, dan dengan apa kita menghargai diri sendiri.
Timbulnya problem relasi antara [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>“<em>Sebab itu terimalah satu akan yang lain, sama seperti Kristus juga telah menerima kita, untuk kemuliaan Allah.</em>”</p>
<p>Roma 15:7</p>
<p>Kemampuan untuk menerima orang lain menunjukkan kemampuan kita untuk menerima diri sendiri. Penolakan terhadap kekurangan atau kelebihan orang lain memberi gambaran kepada kita bagaimana kita menghargai diri sendiri, dan dengan apa kita menghargai diri sendiri.</p>
<p>Timbulnya problem relasi antara suami istri yang secara umum juga terjadi dalam relasi antarsesama, sebagaimana digambarkan dalam Efesus 4:29-32 berawal dari gambaran yang salah tentang diri sendiri maupun orang lain.</p>
<p>“Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia. Dan janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah, yang telah memeteraikan kamu menjelang hari penyelamatan. Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan. Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.” Efesus 4:29 – 32</p>
<p><strong>Ukuran yang Salah Dari Pembandingan</strong></p>
<p>Di dalam pemikiran, kita mempunyai <em>“gambaran”</em> mengenai bagaimana seorang suami atau istri seharusnya akan bertindak. Gambaran ini sangat sempurna, sangat ideal, dan hal ini kemungkinan besar tidak dapat dicapai. Sekalipun begitu,  kita setiap hari menilai diri kita sendiri berdasarkan <em>“gambaran”</em> ini! Dan sejak kita tidak dapat mencocokkan standard idealis, kita menderita. Berikut ini mungkin gambaran kita mengenai istri dan suami yang sempurna.</p>
<p><strong>Gambaran Istri yang Sempurna</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Dia selalu penuh kasih, sabar dan berpengertian. Dia pengatur yang baik, dengan keseimbangan sempurna antara disiplin dan keluwesan. Rumahnya selalu rapih dan ditata dengan baik, dan anak-anaknya patuh kepada setiap perintahnya. Dia tidak cepat marah di saat anak-anaknya lupa mengerjakan tugas mereka. Dia enerjik dan tidak pernah lelah, setelah sehari penuh bekerja dan dia masih merawat anak-anaknya pada waktu malam. Dia bersosialisasi dengan tetangga-tetangganya dan mengambil makanannya untuk dibagikan kepada tetangganya yang sakit dan membutuhkan. Dia terlihat segar dan menarik sepanjang waktu meskipun memakai celana jeans dan sweater, dia memelihara tamannya, atau pergi menghadiri jamuan makan malam. Rambutnya selalu ditata sesuai dengan keinginannya dan tidak pernah kusam. Kuku-kuku jarinya tidak pernah rusak. Dia selalu membuat perencanaan supaya senantiasa bugar, makanan yang seimbang untuk seisi rumahnya dan menarik diri dari pesta-pesta. Dia berjalan dengan penuh iman kepada Tuhannya setiap hari dan mempelajari serta menghafal ayat-ayat Alkitab.</p>
<p><strong>Gambaran Suami yang Sempurna</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Dia cepat bereaksi, memiliki waktu khusus untuk membaca Alkitab dan berdoa dan kemudian mengambil beberapa menit untuk berolah raga. Dia tidak pernah lupa untuk memeluk dan mencium istrinya sebelum berangkat bekerja. Dia terus-menerus sabar menghadapi para bawahan di tempatnya bekerja, dia selalu puas dengan hasil pekerjaannya, dan mempunyai kreatifitas untuk menyelesaikan setiap permasalahan. Dia bekerja keras, tidak pernah membuang-buang kesempatan dan pulang ke rumah tepat waktu setiap hari. Dia pembaca yang baik untuk peristiwa-peristiwa yang terjadi di dunia, peristiwa-peristiwa politik, dan isu-isu sosial utama. Dia “tukang” yang baik yang siap membetulkan segala sesuatu yang rusak di rumah, dan tidak pernah menolak ajakan anak-anaknya untuk bermain bersamanya. Dia dikenal di dalam pertemuan-pertemuan dan tidak pernah lelah membantu orang lain yang membutuhkannya. Dia dapat secara luas mengutip kebenaran ayat-ayat Alkitab dalam sekali lihat, mempunyai iman yang lebih kuat. Ia mengambil waktu untuk berpuasa dan berdoa kalau ada permasalahan di rumah tangganya sebelum menyelesaikan permasalahan tersebut. Dia tidak pernah berkecil hati, tidak pernah tergesa-tega, dan selalu menerapkan firman Tuhan di dalam segala keadaan. Dia tidak pernah kehilangan barang-barangnya, selalu membersihkan giginya setiap selesai makan, tidak mempunyai masalah dengan berat badannya, dan mempunyai waktu untuk memancing.</p>
<p>Apakah kita masih akan menambahkan hal-hal ideal yang kita miliki ke dalam daftar di atas? Saya umumkan bahwa kita tidak akan menemukan seorangpun yang dapat memenuhi gambaran itu. Temukan standar yang benar dalam Tuhan.</p>
<p><strong>Kebenaran Allah: Suatu Standar Citra Diri yang Baru</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Dengan mengacu kepada Firman Allah, kita dapat menemukan betapa kita berharga dan bernilai di hadapan Allah kita. Silahkan meneliti kebenaran dalam kitab-kitab berikut ini:</p>
<ul>
<li>Kejadian 1:26 – 29</li>
<li>Mazmur 139: 13 – 16</li>
<li>Mazmur 139: 17 – 18</li>
<li>Matius 6: 25 – 26</li>
<li>Matius 10:29 – 31</li>
<li>Johanes 3:16-17</li>
</ul>
<p><strong>Prinsip Membangun Rumah Tangga</strong></p>
<p>Ketika kita dan pasangan kita menemukan nilai kita di hadapan Allah, seperti yang diuraikan di dalam ayat-ayat Alkitab di atas, kita dapat menolong orang lain mengatasi ketakutan mereka dan membuat mereka menjadi seperti yang inginkan Allah bagi mereka.</p>
<p>Test: Apakah Saudara termasuk orang yang memiliki penghargaan diri yang baik? Beri angka 3 jika sering, 2 jika kadang-kadang, dan 1 jika jarang sekali.</p>
<ul>
<li>Takut terhadap perubahan</li>
<li>Takut terhadap penolakan</li>
<li>Kepandaian meningkatkan identitas diri</li>
<li>Suka menyalahkan diri sendiri</li>
<li>Mudah kecil hati</li>
<li>Asyik dengan pengalaman masa lalu</li>
<li>Sikap tidak mau disalahkan</li>
<li>Prestasi sangat penting</li>
<li>Posisi atau jabatan memberikan kebanggaan yang besar</li>
<li>Kurang percaya diri</li>
<li>Suka mengkritik orang lain</li>
<li>Membandingkan diri sendiri dengan orang lain</li>
<li>Takut kepada kegagalan</li>
<li>Cenderung percaya kepada situasi terburuk</li>
<li>Dapat dilumpuhkan oleh ketidakmampuan</li>
<li>Kekayaan meningkatkan kepercayaan diri</li>
<li>Sulit menetapkan makna sebuah relasi</li>
<li>Bersembunyi dibalik kelemahan</li>
<li>Mencoba menguasai orang lain dengan cara “tampak  baik”</li>
<li>Mencari identitas dengan cara berkumpul dengan orang-orang penting</li>
</ul>
<p>Jumlah 20-29 baik, 30-49 cukup, 50-60 kurang</p>
<br/><a href="http://www.Tagenie.com/submit.php?url=http://www.lpmi.org/memperkuat-citra-diri/&title=Memperkuat+Citra+Diri" target="_blank"><img src="http://www.Tagenie.com/bookmark.gif" border="0" alt="Social Bookmarking" title="Memperkuat Citra Diri" /></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.lpmi.org/memperkuat-citra-diri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Konflik Dalam Perkawinan</title>
		<link>http://www.lpmi.org/konflik-dalam-perkawinan/</link>
		<comments>http://www.lpmi.org/konflik-dalam-perkawinan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 17 Oct 2009 16:37:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>herys</dc:creator>
				<category><![CDATA[Perkawinan]]></category>
		<category><![CDATA[konflik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lpmi.org/?p=117</guid>
		<description><![CDATA[Analisa kimia pada rambut Beethoven menunjukkan bahwa dia menderita keracunan timah hitam sehingga meninggal. Ini bisa jadi menjelaskan tentang penderitaannya akibat sakit dan sikap mudah marahnya yang meledak-ledak.Timah hitam berasal dari piring atau gelas yang ia gunakan selama bertahun-tahun, juga dari minuman anggur atau ikan yang berasal dari sungai yang terpolusi.
Seperti timah hitam yang menjadi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Analisa kimia pada rambut <a href="http://www.abc.net.au/science/news/stories/s201189.htm">Beethoven</a> menunjukkan bahwa dia menderita keracunan timah hitam sehingga meninggal. Ini bisa jadi menjelaskan tentang penderitaannya akibat sakit dan sikap mudah marahnya yang meledak-ledak.Timah hitam berasal dari piring atau gelas yang ia gunakan selama bertahun-tahun, juga dari minuman anggur atau ikan yang berasal dari sungai yang terpolusi.</p>
<p>Seperti timah hitam yang menjadi penyebab kematian <a href="http://www.abc.net.au/science/news/stories/s201189.htm">Beethoven</a>, konflik yang tidak terselesaikan akan menumpuk menjadi racun yang mematikan bagi sebuah perkawinan. Perkawinan mungkin akan tetap tampak utuh, tetapi sesungguhnya hubungan itu sudah sangat rapuh. Perekatnya mungkin hanya  adanya anak-anak dan rasa malu terhadap perceraian.</p>
<p><span id="more-117"></span>Banyak faktor yang memungkinkan menghasilkan konflik. <strong>Perbedaan</strong> kepribadian, perbedaan tujuan hidup, perbedaan latar belakang sosial dan budaya, perbedaan kebiasaan, dan segudang perbedaan lain yang bisa didaftarkan antara suami dan istri. Perbedaan memang berpotensi menghasilkan konflik tapi juga berpotensi merekatkan hubungan. Menjadi konflik jika perbedaan itu tidak dipahami sebagai keunikan pasangan, melainkan sebagai keburukan yang harus dibereskan. Bukan diselaraskan tetapi dihilangkan.</p>
<p>Secara kodrati, laki-laki dan perempuan diciptakan Tuhan berbeda, baik secara biologis maupun emosional. Kemampuan memahami pasangan dapat menyelaraskan perbedaan yang berguna bagi pertumbuhan keduanya. (baca topik: Bagaimana memahami pasangan)</p>
<p>Jikalau perbedaan berpotensi menghasilkan konflik, maka tingkat <strong>pertumbuhan rohani</strong> merupakan penyubur atau penghambat konflik. Tingkat pertumbuhan rohani yang dimaksudkan tidak diukur dari umur seseorang, prestasi kerja, bahkan keterlibatan seseorang dalam pelayanan. Status seseorang sebagai hamba Tuhan  tidak serta merta menunjukkan tingkat pertumbuhan rohaninya. Tingkat pertumbuhan rohani ini adalah tingkat penyerapan kebenaran Allah yang dinyatakan melalui firman-Nya dan kemampuan seseorang untuk menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, sekalipun potensi konflik sangat besar, kesempatan untuk menjadi konflik dapat diredam jika seseorang mengalami pertumbuhan rohani.</p>
<p>Bagaimanakah kita dapat bertumbuh? Keberanian kita untuk terbuka kepada Tuhan menjadi langkah yang amat penting. “Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku;  lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!” Mazmur 139:23-24 Kesadaran ini akan membawa kita pada kerendahan hati untuk dibentuk oleh Tuhan menuju pertumbuhan rohani sebagaimana yang dikehendaki Tuhan.</p>
<p>Kelompok HomeBuilder akan sangat menolong pertumbuhan rohani kita, pasangan suami istri. Kita dapat mengikuti di tempat tinggal kita.</p>
<p>Bagaimanakah jika konflik sudah terjadi dan menjadi begitu akut, menyiksa, dan menjadikan rumah seolah neraka yang tidak mau kita tinggali? Jawabnya adalah <strong>pengampunan</strong>! Sebuah tindakan yang dapat dilakukan oleh semua orang, kaya maupun miskin, berpendidikan maupun tidak, tetapi sulit untuk dilakukan. Tanpa pengampunan, konflik akan menjadi racun yang terus menumpuk dan menghancurkan hubungan perkawinan. Kita harus mengampuni pasangan kita sebagaimana Tuhan sudah mengampuni kita. Sebaliknya kita harus mengambil langkah untuk meminta pengampun dari pasangan kita atas sikap permusuhan yang kita berikan.</p>
<p>Pengampunan adalah langkah penting untuk memulihkan sebuah hubungan yang rusak karena konflik. Jika kita berani mengambil langkah ini, maka jalan menjadi terbuka untuk menikmati pertumbuhan rohani dan kebahagiaan dalam keluarga.</p>
<p><em>“</em><em>Sebab itu kukatakan dan kutegaskan ini kepadamu di dalam Tuhan: Jangan hidup lagi sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan pikirannya yang sia-sia</em><em>.” Efesus 4:17</em></p>
<br/><a href="http://www.Tagenie.com/submit.php?url=http://www.lpmi.org/konflik-dalam-perkawinan/&title=Konflik+Dalam+Perkawinan" target="_blank"><img src="http://www.Tagenie.com/bookmark.gif" border="0" alt="Social Bookmarking" title="Konflik Dalam Perkawinan" /></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.lpmi.org/konflik-dalam-perkawinan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Keharmonisan Dalam Keluarga Di Tengah Kesulitan Hidup</title>
		<link>http://www.lpmi.org/keharmonisan-dalam-keluarga-di-tengah-kesulitan-hidup/</link>
		<comments>http://www.lpmi.org/keharmonisan-dalam-keluarga-di-tengah-kesulitan-hidup/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Oct 2009 18:06:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>herys</dc:creator>
				<category><![CDATA[Perkawinan]]></category>
		<category><![CDATA[keharmonisan]]></category>
		<category><![CDATA[keluarga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lpmi.org/?p=75</guid>
		<description><![CDATA[Fakta
Banyak pernikahan yang bergumul atau bahkan hancur karena pasangan suami-istri tidak mampu menghadapi kesulitan hidup. Sebaliknya tidak sedikit pula  pasangan yang berpikir “kami tidak punya banyak masalah”,  padahal setiap orang memiliki masalah karena kebutuhan yang berbeda, dan tidak ada masalah sekecil apapun yang tidak penting. Anda pasti tahu bahwa kebakaran yang besar berasal dari sebuah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Fakta</strong></p>
<p>Banyak pernikahan yang bergumul atau bahkan hancur karena pasangan suami-istri tidak mampu menghadapi kesulitan hidup. Sebaliknya tidak sedikit pula  pasangan yang berpikir “kami tidak punya banyak masalah”,  padahal setiap orang memiliki masalah karena kebutuhan yang berbeda, dan tidak ada masalah sekecil apapun yang tidak penting. Anda pasti tahu bahwa kebakaran yang besar berasal dari sebuah puntung rokok? Persoalan yang besar sering berasal dari hal-hal yang sepele.</p>
<p><strong>Masalah Utama</strong></p>
<p>Masalah utama sesungguhnya terletak pada kita, dan bukan pada kesulitan yang kita hadapi. Pertama, kebanyakan dari antara kita tidak memiliki sikap yang benar dalam menghadapi pencobaan dan penderitaan. Kedua, kebanyakan dari antara kita tidak mau memikirkannya walaupun tahu suatu saat akan menghadapi penderitaan/pencobaan. Ketiga, sedikit orang di antara kita yang tahu bagaimana menghadapi kesulitan karena tidak mempersiapkan diri untuk menghadapinya jika hal itu tiba.</p>
<p><strong><span id="more-75"></span>Kebenaran</strong>:</p>
<p>Yakubus 1:2-4  dikatakan, “Apabila (when) datang pencobaan…” bukan “jika (if) datang pencobaan….”. Ini berarti pencobaan atau penderitaan pasti akan menghampiri kita. Kita tidak bebas dari penderitaan. Jikalau kita beranggapan bahwa orang yang diberkati terbebas dari penderitaan, maka kita telah menyangkal Allah. Flp 1:29  Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk <em><span style="text-decoration: underline;">menderita</span></em> untuk Dia,</p>
<p>Jadi berbahagialah orang yang telah mempersiapkan diri untuk menghadapi jika penderitaan itu tiba. Kita dapat menarik pelajaran dari kisah berikut ini:</p>
<p>Pada bulan Juni 1995 Scott O Grady,  penerbang pesawat tempur F-16 Amerika tertembak jatuh oleh musuh di daerah utara Bosnia. Enam hari kemudian ia ditemukan oleh tim penyelamat helikopter marinir. Bangsa Amerika kagum pada kisahnya, bagaimana ia bertahan hidup dengan makan serangga, menampung air hujan untuk minum, dan menghindar dari pencarian tim pelacak Bosnia.</p>
<p>Keberhasilan Scott O Grady tak lepas dari latihan yang dia ikuti selama 17 hari untuk bertahan hidup di alam liar, dan menjaga sikap mental positif. Ia benar-benar telah siap menyambut penderitaan itu dan berhasil keluar.</p>
<p><strong>Bersiap dengan memahami perspektif Allah tentang penderitaan</strong></p>
<p>Dalam perspektif Allah, penderitaan yang kita alami selalu bermanfaat. Kita akan mengambil manfaat itu jika kita tahu cara kerja Allah dalam kehidupan pribadi kita dan keluarga kita. Sebaliknya kita akan mengalami penderitaan yang menyengsarakan dan berakhir sebagai orang yang kehilangan.</p>
<p>Sesungguhnya:</p>
<p>Allah memakai semuanya untuk kebaikan kita (Roma 8:28). Allah menguji kualitas iman kita sehingga Kristus dipermuliakan ( I Petrus 1:3-9). Saya memahami kebenaran ini melalui kisah sebuah seterika. Bertahun-tahun lamanya saya tidak memusingkan diri dengan pakaian yang akan saya kenakan. Hingga suatu saat orang yang membantu keluarga kami mengurus rumah memutuskan untuk hidup mandiri. Dan saya berbagi pekerjaan rumah dengan istri. Menyeterika adalah tugas saya. Saya baru sadar bahwa kami belum pernah mengganti seterika setelah lebih dari sepuluh tahun digunakan. Ah, rupanya merek yag kami gunakan mempunyai kualitas yang luar biasa. Saya tidak memperhatikannya bertahun-tahun, dan sekarang saya mengagumi pembuatnya. Kini bahkan saya mempromosikan merek tersebut kepada siapa saja yang membutuhkan, tanpa meminta bayaran kepada pembuatnya atas promosi yang saya lakukan. Demikian juga banyak orang akan kagum kepada Allah kita ketika kita teruji kualitas iman kita.</p>
<p>Dan Allah mempersiapkan kita untuk menerima berkat dalam kemuliaan-Nya  (1 Petrus 4:12-14)</p>
<p><strong>Keyakinan kita</strong></p>
<p>Tidak mudah untuk mempercayai janji Allah. Tetapi tidak mempercayai-Nya sama artinya kita mengatakan bahwa Diaberbohong! Allah tidak dapat berdusta. Yang harus kita lakukan adalah beriman pada janji Allah bahwa Dia menyediakan kekuatan yang kita butuhkan untuk menghadapi setiap situasi (Filipi 4:12-13; I Korintus 10”13). Dia juga menyediakan penghiburan bagi kita (2 Korintus 1:3-4), karena itu kita dapat bersukacita di tengah-tengah kesulitan yang menimpa.</p>
<p>Bersyukurlah kalau kita mempunyai pasangan. Masalah atau kesulitan akan lebih mudah dihadapi. Lebih dari itu, kesulitan yang dihadapi akan semakin mempererat hubungan kita dengan pasangan kita. Dengan kata lain, kesulitan adalah teman terbaik buat keharmonisan rumah tangga kita. Bersama, lebih berhasil! (Pengkhotbah 4:9)</p>
<br/><a href="http://www.Tagenie.com/submit.php?url=http://www.lpmi.org/keharmonisan-dalam-keluarga-di-tengah-kesulitan-hidup/&title=Keharmonisan+Dalam+Keluarga+Di+Tengah+Kesulitan+Hidup" target="_blank"><img src="http://www.Tagenie.com/bookmark.gif" border="0" alt="Social Bookmarking" title="Keharmonisan Dalam Keluarga Di Tengah Kesulitan Hidup" /></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.lpmi.org/keharmonisan-dalam-keluarga-di-tengah-kesulitan-hidup/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Membangun Pernikahan Mengikuti Blueprint Allah</title>
		<link>http://www.lpmi.org/membangun-pernikahan-mengikuti-blueprint-allah/</link>
		<comments>http://www.lpmi.org/membangun-pernikahan-mengikuti-blueprint-allah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Oct 2009 02:59:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>herys</dc:creator>
				<category><![CDATA[Perkawinan]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[membangun]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lpmi.org/?p=16</guid>
		<description><![CDATA[Dr. Gerry &#38; Barbara Rosberg
Ketika seorang pria dan seorang wanita menikah, mereka berdiri di depan saksi-saksi dan mengungkapkan komitmen untuk saling mengasihi seumur hidup. Mereka mengucapkan janji ilahi: “&#8230; saling memiliki dan menjadi satu&#8230; mulai hari ini dan seterusnya &#8230; mengasihi, menghargai, dalam susah dan senang, dalam keadaan kaya maupun miskin, sakit ataupun sehat sampai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong></strong><em>Dr. Gerry &amp; Barbara Rosberg</em></p>
<p>Ketika seorang pria dan seorang wanita menikah, mereka berdiri di depan saksi-saksi dan mengungkapkan komitmen untuk saling mengasihi seumur hidup. Mereka mengucapkan janji ilahi: “&#8230; saling memiliki dan menjadi satu&#8230; mulai hari ini dan seterusnya &#8230; mengasihi, menghargai, dalam susah dan senang, dalam keadaan kaya maupun miskin, sakit ataupun sehat sampai maut memisahkan &#8230;”</p>
<p>Itulah hari bahagia, dan mungkin yang paling indah dalam hidup mereka. Dan setelah bulan madu berlalu, banyak pasangan menyadari bahwa <strong>“jatuh cinta” dan membangun pernikahan yang baik adalah dua hal yang berbeda.</strong> Memegang janji itu lebih sulit dari pada yang pernah dibayangkan.</p>
<p><span id="more-16"></span>Sesungguhnya Allah telah menyiapkan sebuah <em>Blueprint</em> atau rancangan dalam rangka suatu pernikahan yang berhasil. Rancangan-Nya adalah agar pria dan wanita dapat bertumbuh bersama dalam suatu hubungan yang saling mengasihi dan agar mereka ke luar menjangkau pasangan lain yang membutuhkan kasih Kristus. Menolak rancangan Allah akan menyebabkan keterasingan antara suami-istri, penyesalan, kepahitan, merasa sia-sia, dan lebih dari itu adalah perceraian.</p>
<p>Kenyataannya, seseorang menikah tanpa pengalaman menikah. Bila tidak secara sadar berusaha belajar mewujudkan pernikahan yang berhasil, maka tingkat keberhasilan pernikahan itu hanya sejauh apa yang mereka lihat dari contoh yang ditampilkan orang tua mereka.</p>
<p><!--more-->Kemanakah belajar secara tepat? Alkitab. Alkitab adalah manual yang disiapkan Allah supaya kita hidup dalam pernikahan berdasarkan Blueprint Allah. Walaupun Alkitab ditulis ribuan tahun lalu, pesan yang ingin disampaikan Allah melaluinya melampaui batasan jaman. Yang saudara perlukan hanyalah teman untuk saling belajar menerapkan rancangan Allah itu.</p>
<p>Tim kami mempersiapkan kelompok <strong>HomeBuilder</strong> bagi siapa saja yang ingin membangun keseimbangan hidup dalam keluarga.</p>
<br/><a href="http://www.Tagenie.com/submit.php?url=http://www.lpmi.org/membangun-pernikahan-mengikuti-blueprint-allah/&title=Membangun+Pernikahan+Mengikuti+Blueprint+Allah" target="_blank"><img src="http://www.Tagenie.com/bookmark.gif" border="0" alt="Social Bookmarking" title="Membangun Pernikahan Mengikuti Blueprint Allah" /></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.lpmi.org/membangun-pernikahan-mengikuti-blueprint-allah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
