<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>FamilyLife &#187; herys</title>
	<atom:link href="http://www.lpmi.org/author/herys/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.lpmi.org</link>
	<description>student movement</description>
	<lastBuildDate>Tue, 23 Feb 2010 03:54:03 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Memperkuat Citra Diri</title>
		<link>http://www.lpmi.org/memperkuat-citra-diri/</link>
		<comments>http://www.lpmi.org/memperkuat-citra-diri/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Feb 2010 03:50:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>herys</dc:creator>
				<category><![CDATA[Perkawinan]]></category>
		<category><![CDATA[citra diri]]></category>
		<category><![CDATA[memperkuat citra diri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.lpmi.org/?p=214</guid>
		<description><![CDATA[“Sebab itu terimalah satu akan yang lain, sama seperti Kristus juga telah menerima kita, untuk kemuliaan Allah.”
Roma 15:7
Kemampuan untuk menerima orang lain menunjukkan kemampuan kita untuk menerima diri sendiri. Penolakan terhadap kekurangan atau kelebihan orang lain memberi gambaran kepada kita bagaimana kita menghargai diri sendiri, dan dengan apa kita menghargai diri sendiri.
Timbulnya problem relasi antara [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>“<em>Sebab itu terimalah satu akan yang lain, sama seperti Kristus juga telah menerima kita, untuk kemuliaan Allah.</em>”</p>
<p>Roma 15:7</p>
<p>Kemampuan untuk menerima orang lain menunjukkan kemampuan kita untuk menerima diri sendiri. Penolakan terhadap kekurangan atau kelebihan orang lain memberi gambaran kepada kita bagaimana kita menghargai diri sendiri, dan dengan apa kita menghargai diri sendiri.</p>
<p>Timbulnya problem relasi antara suami istri yang secara umum juga terjadi dalam relasi antarsesama, sebagaimana digambarkan dalam Efesus 4:29-32 berawal dari gambaran yang salah tentang diri sendiri maupun orang lain.</p>
<p>“Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia. Dan janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah, yang telah memeteraikan kamu menjelang hari penyelamatan. Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan. Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.” Efesus 4:29 – 32</p>
<p><strong>Ukuran yang Salah Dari Pembandingan</strong></p>
<p>Di dalam pemikiran, kita mempunyai <em>“gambaran”</em> mengenai bagaimana seorang suami atau istri seharusnya akan bertindak. Gambaran ini sangat sempurna, sangat ideal, dan hal ini kemungkinan besar tidak dapat dicapai. Sekalipun begitu,  kita setiap hari menilai diri kita sendiri berdasarkan <em>“gambaran”</em> ini! Dan sejak kita tidak dapat mencocokkan standard idealis, kita menderita. Berikut ini mungkin gambaran kita mengenai istri dan suami yang sempurna.</p>
<p><strong>Gambaran Istri yang Sempurna</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Dia selalu penuh kasih, sabar dan berpengertian. Dia pengatur yang baik, dengan keseimbangan sempurna antara disiplin dan keluwesan. Rumahnya selalu rapih dan ditata dengan baik, dan anak-anaknya patuh kepada setiap perintahnya. Dia tidak cepat marah di saat anak-anaknya lupa mengerjakan tugas mereka. Dia enerjik dan tidak pernah lelah, setelah sehari penuh bekerja dan dia masih merawat anak-anaknya pada waktu malam. Dia bersosialisasi dengan tetangga-tetangganya dan mengambil makanannya untuk dibagikan kepada tetangganya yang sakit dan membutuhkan. Dia terlihat segar dan menarik sepanjang waktu meskipun memakai celana jeans dan sweater, dia memelihara tamannya, atau pergi menghadiri jamuan makan malam. Rambutnya selalu ditata sesuai dengan keinginannya dan tidak pernah kusam. Kuku-kuku jarinya tidak pernah rusak. Dia selalu membuat perencanaan supaya senantiasa bugar, makanan yang seimbang untuk seisi rumahnya dan menarik diri dari pesta-pesta. Dia berjalan dengan penuh iman kepada Tuhannya setiap hari dan mempelajari serta menghafal ayat-ayat Alkitab.</p>
<p><strong>Gambaran Suami yang Sempurna</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Dia cepat bereaksi, memiliki waktu khusus untuk membaca Alkitab dan berdoa dan kemudian mengambil beberapa menit untuk berolah raga. Dia tidak pernah lupa untuk memeluk dan mencium istrinya sebelum berangkat bekerja. Dia terus-menerus sabar menghadapi para bawahan di tempatnya bekerja, dia selalu puas dengan hasil pekerjaannya, dan mempunyai kreatifitas untuk menyelesaikan setiap permasalahan. Dia bekerja keras, tidak pernah membuang-buang kesempatan dan pulang ke rumah tepat waktu setiap hari. Dia pembaca yang baik untuk peristiwa-peristiwa yang terjadi di dunia, peristiwa-peristiwa politik, dan isu-isu sosial utama. Dia “tukang” yang baik yang siap membetulkan segala sesuatu yang rusak di rumah, dan tidak pernah menolak ajakan anak-anaknya untuk bermain bersamanya. Dia dikenal di dalam pertemuan-pertemuan dan tidak pernah lelah membantu orang lain yang membutuhkannya. Dia dapat secara luas mengutip kebenaran ayat-ayat Alkitab dalam sekali lihat, mempunyai iman yang lebih kuat. Ia mengambil waktu untuk berpuasa dan berdoa kalau ada permasalahan di rumah tangganya sebelum menyelesaikan permasalahan tersebut. Dia tidak pernah berkecil hati, tidak pernah tergesa-tega, dan selalu menerapkan firman Tuhan di dalam segala keadaan. Dia tidak pernah kehilangan barang-barangnya, selalu membersihkan giginya setiap selesai makan, tidak mempunyai masalah dengan berat badannya, dan mempunyai waktu untuk memancing.</p>
<p>Apakah kita masih akan menambahkan hal-hal ideal yang kita miliki ke dalam daftar di atas? Saya umumkan bahwa kita tidak akan menemukan seorangpun yang dapat memenuhi gambaran itu. Temukan standar yang benar dalam Tuhan.</p>
<p><strong>Kebenaran Allah: Suatu Standar Citra Diri yang Baru</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Dengan mengacu kepada Firman Allah, kita dapat menemukan betapa kita berharga dan bernilai di hadapan Allah kita. Silahkan meneliti kebenaran dalam kitab-kitab berikut ini:</p>
<ul>
<li>Kejadian 1:26 – 29</li>
<li>Mazmur 139: 13 – 16</li>
<li>Mazmur 139: 17 – 18</li>
<li>Matius 6: 25 – 26</li>
<li>Matius 10:29 – 31</li>
<li>Johanes 3:16-17</li>
</ul>
<p><strong>Prinsip Membangun Rumah Tangga</strong></p>
<p>Ketika kita dan pasangan kita menemukan nilai kita di hadapan Allah, seperti yang diuraikan di dalam ayat-ayat Alkitab di atas, kita dapat menolong orang lain mengatasi ketakutan mereka dan membuat mereka menjadi seperti yang inginkan Allah bagi mereka.</p>
<p>Test: Apakah Saudara termasuk orang yang memiliki penghargaan diri yang baik? Beri angka 3 jika sering, 2 jika kadang-kadang, dan 1 jika jarang sekali.</p>
<ul>
<li>Takut terhadap perubahan</li>
<li>Takut terhadap penolakan</li>
<li>Kepandaian meningkatkan identitas diri</li>
<li>Suka menyalahkan diri sendiri</li>
<li>Mudah kecil hati</li>
<li>Asyik dengan pengalaman masa lalu</li>
<li>Sikap tidak mau disalahkan</li>
<li>Prestasi sangat penting</li>
<li>Posisi atau jabatan memberikan kebanggaan yang besar</li>
<li>Kurang percaya diri</li>
<li>Suka mengkritik orang lain</li>
<li>Membandingkan diri sendiri dengan orang lain</li>
<li>Takut kepada kegagalan</li>
<li>Cenderung percaya kepada situasi terburuk</li>
<li>Dapat dilumpuhkan oleh ketidakmampuan</li>
<li>Kekayaan meningkatkan kepercayaan diri</li>
<li>Sulit menetapkan makna sebuah relasi</li>
<li>Bersembunyi dibalik kelemahan</li>
<li>Mencoba menguasai orang lain dengan cara “tampak  baik”</li>
<li>Mencari identitas dengan cara berkumpul dengan orang-orang penting</li>
</ul>
<p>Jumlah 20-29 baik, 30-49 cukup, 50-60 kurang</p>
<br/><a href="http://www.Tagenie.com/submit.php?url=http://www.lpmi.org/memperkuat-citra-diri/&title=Memperkuat+Citra+Diri" target="_blank"><img src="http://www.Tagenie.com/bookmark.gif" border="0" alt="Social Bookmarking" title="Memperkuat Citra Diri" /></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.lpmi.org/memperkuat-citra-diri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pencobaan Terhadap Orang (Keluarga) Saleh</title>
		<link>http://www.lpmi.org/pencobaan-terhadap-orang-keluarga-saleh/</link>
		<comments>http://www.lpmi.org/pencobaan-terhadap-orang-keluarga-saleh/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Oct 2009 06:25:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>herys</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pertumbuhan Rohani]]></category>
		<category><![CDATA[ayub]]></category>
		<category><![CDATA[keluarag]]></category>
		<category><![CDATA[pencobaan]]></category>
		<category><![CDATA[saleh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lpmi.org/?p=197</guid>
		<description><![CDATA[Kisah Ayub
Pertanyaan yang pernah saya dengar dari seorang Kristen adalah, “Apakah dosa kami?” Saat itu suaminya harus operasi jantung, anaknya yang bungsu juga harus operasi jantung, dan yang laki-laki harus operasi di bagian kepala. Kesulitan itu datang bertubi-tubi. Seorang Kristen lain juga menanyakan hal yang sama. “Ada apa dengan kami?” suaminya mengalami kecelakan kerja, tak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kisah Ayub</p>
<p>Pertanyaan yang pernah saya dengar dari seorang Kristen adalah, “Apakah dosa kami?” Saat itu suaminya harus operasi jantung, anaknya yang bungsu juga harus operasi jantung, dan yang laki-laki harus operasi di bagian kepala. Kesulitan itu datang bertubi-tubi. Seorang Kristen lain juga menanyakan hal yang sama. “Ada apa dengan kami?” suaminya mengalami kecelakan kerja, tak lama kemudian terkena stroke. Belum lama sembuh dari stroke, terkena batu ginjal. Ibu itu sendiri juga didiagnosa terkena tumor di sinus, bola matanya mulai tidak bisa digerakkan, dan mulai mengecil. Padahal orang-orang ini saya tahu melayani di gereja, suka memberi, ringan kaki, ramah, suka bersaksi tentang Kristus. Apa yang salah dengan keluarga-keluarga ini?</p>
<p>Kisah yang jauh lebih tragis menimpa seorang tokoh bernama Ayub yang diperkirakan terjadi tiga ribu tahun yang lalu. Ia adalah orang yang bukan saja dikenal sebagai orang paling kaya, tetapi juga paling saleh di muka bumi. Seandainya pada saat itu media informasi sudah seperti sekarang ini, tentu selama berhari-hari, kisah kebangkrutan Ayub menjadi <em>headline news</em> yang selalu menarik untuk dikupas dari berbagai sudut pandang dan dalam berbagai jenis kacamata. Tetapi rupanya kisah itu hanya ditulis secara ‘lengkap’ dalam kitab Ayub yang menggunakan kacamata “rohani”. Mungkin karena menggunakan kacamata rohani itulah, jati diri Ayub menjadi sulit untuk dilacak.</p>
<p><strong>Ayub dicobai dengan Penderitaan</strong>.</p>
<p>Menurut cerita tradisi dari Midrash dan Talmud, Ayub bukanlah orang Yahudi. Perkiraaan itu dikuatkan oleh pertanyaan Ayub yang mengutuki hari kelahirannya (3:1). Tindakan itu bukan merupakan kebiasaan orang Yahudi, melainkan kebiasaan orang – orang-orang yang tidak percaya pada kebangkitan.  Mungkin Ayub pun tidak mempercayai kebangkitan, sehingga ia mengatakan “orang yang turun ke dalam dunia orang mati tidak akan muncul kembali” (7:9b). Ketidakpercayaan seperti itulah yang membuat penderitaan yang dialami  Ayub terasa sangat berat.</p>
<p>Jika benar Ayub bukan orang Yahudi, bagaimana mungkin Ayub mempunyai dasar yang kokoh untuk bertahan pada kesalehannya dan tetap menjunjung tinggi kedaulatan Allah, ketika mengalami penderitaan yang hebat? Masih menurut cerita tradisi, Ayub adalah salah satu dari tiga penasihat Firaun, termasuk Yitro, ayah mertua Musa. Oleh karena itu dimungkinkan Ayub bergaul dengan orang-orang Israel di Mesir sejak ia masih kecil. Dari pergaulannya itulah ia mengenal Allah Israel. Terlebih lagi pada masa eksodus (masa keluarnya orang Israel dari Mesir), tampaknya Ayub lebih diyakinkan akan kemahakuasaan Allah.</p>
<p>Terlepas dari benar tidaknya cerita tradisi tersebut, Alkitab mencatat rekomendasi Allah tentang Ayub sebagai orang yang saleh, jujur, dan takut akan Allah, yang tidak dapat disamai oleh siapapun di muka bumi. Selain itu oleh nabi Yehezkiel, Ayub disejajarkandengan tokoh iman Nuh dan Daniel (Yeh 14:14,20). Sementara itu, Yakobus menyebut Ayub sebagai orang yang tekun dalam penderitaan karena pencobaan.</p>
<p>Fakta yang disodorkan oleh Alkitab memang menunjukkan penderitaan Ayub yang luar biasa beratnya. Orang yang berperingkat pertama dari daftar orang terkaya ini, harus kehilangan semua <em>asset</em> kekayaannya. Orang yang disebut berbahagia dengan keluarga besarnya itu, harus kehilangan kesepuluh anaknya. Orang yang disebut paling saleh dan jujur ini, harus menderita penyakit kulit yang menjijikkan dengan baunya yang busuk. Perubahan hidup yang sangat drastis. Semua orang dulu mengelu-elukannya karena kebaikan hatinya, kini bahkan menghinanya.</p>
<p>Harta bisa dicari, tetapi yang lebih menyedihkan adalah keluarganya berantakan. Setelah kehilangan semua anaknya, istrinya pun meninggalkannya. Manakah arti sebuah kesetiaan? Janji pernikahan untuk tetap bersama dalam sakit ataupun sehat, kaya ataupun miskin, susah ataupun senang, tak lagi ada artinya. Ia kini sendirian. Namun demikian, sejauh itu penderitaan Ayub, ia tetap menerima keadaannya dan tidak meninggalkan Allah.</p>
<p><strong>Solidaritas yang Mengitimidasi</strong></p>
<p><strong> </strong>Di tengah situasi seperti itu, rupanya ada teman-teman Ayub dari “Organisasi Kaum Cendikiawan”, dimana Ayub juga menjadi anggotanya, menunjukkan solidaritas dan rasa kesetiakawanan. Mereka menunjukkan sikap peduli terhadap penderitaan Ayub, dan kalau mungkin, menjadi perantaraan pemulihan Ayub. Walaupun mereka sangat ingin segera berbicara ketika bertemu dengan Ayub, tetapi mereka juga menghargai “konvensi” yang berlaku tentang kunjungan penghiburan. Peraturan tak tertulis ini mengatakan: orang yang dihiburlah yang berhak memulai percakapan dan menentukan topik pembicaraan. Itulah sebabnya selama tujuh hari mereka diam, sampai akhirnya Ayub memulai berbicara. Saat Ayub berbicara pun, sesungguhnya perkataannya lebih ditujukan sebagai keluhan kepada Allah. Mengapa malapetaka dan penderitaan menimpa orang saleh seperti dia, seolah-olah Allah melawannya dengan keras secara tidak adil?</p>
<p>Mendengar keluhan Ayub, teman-temannya berusaha menunjukkan akar persoalannya, bahwa tidak ada penderitaan yang tidak disebabkan oleh dosa. Kesimpulannya, Ayub sedang mendapat penghukuman dari Allah karena kesalahannya. Mereka menyarankan supaya Ayub menyadari hal itu dan segera bertobat. Tetapi persoalannya, setelah Ayub menyelidiki hatinya, ia mendapati dirinya bersih dan tidak menyimpang.</p>
<p>Semula Ayub mau menerima keadaanya yang menderita, karena menurutnya yang beasal dari Allah, Allah juga yang berhak mengambilnya. Tetapi karena intimidasi lingkungannya, termasuk dari teman-temanya, supaya Ayub mengaitkan penderitaan tersebut dengan dosa, dia menjadi tidak mau menerimanya. Walaupun demikian, Ayub sempat ragu-ragu. Barangkali kesalahan-kesalahannya pada masa lampau masih diingat Tuhan, sekalipun dia sudah mempersembahkan korban bakaran kepada Allah (7.21), bahkan untuk kesalahan-kesalahan yang mungkin tidak diketahuinya (1:5).</p>
<p>Sadar bahwa orang lain mengaitkan penderitaanya dengan dosa yang diperbuatnya, dan itu didukung dengan keyakinan yang hidup pada saat itu bahkan hingga sekarang tentang hukum “berkat dan kutuk”: bahwa orang benar akan mendapat berkat dan orang fasik akan menerima kutuk; Ayub mengajukan perkara ini ke hadapan Allah. Ayub menggugat. Barangkali pula Ayub berpikir, jangan-jangan Allah salah mengidentifikasikan  nama “Eyov” (=Ayub) dengan “Oyev” (=musuh), sehingga kutuk yang seharusnya menimpa Oyev, menjadi menimpa Eyov.</p>
<p>Hukum berkat dan kutuk telah memerangkap pikiran orang percaya bahwa Allah hanya bertindak secara mekanistis. Seperti mesin!</p>
<p><strong>Allah Tidak Pernah Salah</strong></p>
<p>Barangkali karena keragu-raguan Ayub itulah, Allah menjawab dari dalam badai. Dengan menggunakan pertanyaan-pertanyaan yang tidak memerlukan jawaban tentang alam semesta dan isinya, Allah seakan-akan bertanya kepada Ayub.”Apakah Aku kurang cermat dalam menciptakan alam semesta dan seisinya, sehingga hanya untuk membedakan Ovey dan Eyov pun tidak dapat?” Maksudnya, Allah pasti tidak salah identifikasi berkenaan dengan penderitaan yang dialami Ayub dan juga penderitaan yang mungkin dialami oleh orang-orang percaya lainnya.</p>
<p>Perhatikanlah awal kisah penderitaan Ayub pada kitab Ayub pasal yang pertama. Bermula dari upaya Iblis untuk menjatuhkan Ayub dari kehidupannya yang berkenan kepada Allah, dan kemudian Allah mengijinkan Iblis mencobai Ayub dengan menetapkan syarat. Syarat pertama, Iblis dilarang menjamah tubuh Ayub. Setelah pencobaan pertama gagal membuat Ayub mengingkari Allah, Iblis melancarkan serangan kedua yang juga diijinkan Allah dengan syarat: tidak boleh membunuhnya. Iblis tidak akan berani menerobos syarat yang telah ditentukan Allah. Syarat itulah sesungguhnya yang menjadi batas kekuatan Ayub menerima cobaan itu. Hal ini ditegaskan dalam 1 Korintus 10:13, bahwa Allah tidak akan membiarkan anak-Nya dicobai melampaui kekuatannya. Allah tahu batas kekuatan Ayub dan juga tahu batas kekuatan kita.</p>
<p>Menyadari hal itu, Ayub serta merta merendahkan diri di hadapan Allah dan mencabut semua keluhan dan keragu-raguannya terhadap Allah. Ayub kini memiliki perspektif yang baru dalam pengenalannya akan Allah secara benar bahwa <strong>Allah tidak dibatasi </strong><strong>oleh hukum berkat dan kutuk,</strong> tetapi Dia adalah Allah yang hidup, dinamis, yang juga senantiasa berjaga di tengah penderitaan umat-Nya. Walaupun Allah tidak merencanakan pencobaan (Yak 1:13), tetapi Allah menggunakan keadaan itu untuk menguji dan memurnikan orang-orang yang takut kepada-Nya (Yak 1:12). Dan atas ketekunan Ayub dalam penderitaan, dan kesetiaan Ayub kepada Allah dengan tidak mengutuki Dia walaupun Allah Israel hanya dikenalnya melalui perkataan orang lain, Allah memulihkan keadaan Ayub seperti sediakala, bahkan memberikan kekayaan kepadanya berlipat ganda. Allah juga memberikan anak laki-laki dan perempuan sebagai ganti anak-anaknya yang telah mati.</p>
<p>Allah mempunyai saat yang Dia tetapkan untuk memulihkan! Melalui penderitaan juga, kita mengenal Allah labih baik. Mengenal secara pribadi, bukan berdasarkan kata orang.</p>
<p><strong>Berkata</strong><strong>-katalah dengan Benar tentang Penderitaan</strong></p>
<p>Bagaimana dengan teman-teman Ayub yang mempunyai motivasi untuk menyatakan kepeduliannya terhadap penderitaan orang lain? Bahkan dalam nasihatnya kepada Ayub, ia seolah-olah membela Allah? Allah justru mempersalahkan mereka. “..maka firman TUHAN kepada Elifas, orang Teman: &#8220;Murka-Ku menyala terhadap engkau dan terhadap kedua sahabatmu, karena kamu tidak berkata <span style="text-decoration: underline;">benar</span> tentang Aku seperti hamba-Ku Ayub.” (Ayub 42:7) Maksud mereka yang baik menjadi salah karena mereka tidak berkata-kata dengan benar tentang Allah dan Ayub. Pengenalan mereka tentang Allah yang berdasarkan hukum berkat dan kutuk, membuat mereka terjebak menilai Ayub sebagai orang yang bersalah. Dengan demikian sesungguhnya mereka telah memfitnah Ayub.</p>
<p>Ternyata tidak mudah menyatakan kepedulian kepada orang lain. Tidak mudah juga menasihati orang lain. Tetapi tidak berarti bahwa lebih baik tidak peduli, bukan? Asal tidak datang dengan rasa superior, mungkin kita dapat menunjukkan sikap peduli yang baik.</p>
<br/><a href="http://www.Tagenie.com/submit.php?url=http://www.lpmi.org/pencobaan-terhadap-orang-keluarga-saleh/&title=Pencobaan+Terhadap+Orang+%28Keluarga%29+Saleh" target="_blank"><img src="http://www.Tagenie.com/bookmark.gif" border="0" alt="Social Bookmarking" title="Pencobaan Terhadap Orang (Keluarga) Saleh" /></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.lpmi.org/pencobaan-terhadap-orang-keluarga-saleh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Legenda Mama Super</title>
		<link>http://www.lpmi.org/legenda-mama-super/</link>
		<comments>http://www.lpmi.org/legenda-mama-super/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Oct 2009 01:25:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>herys</dc:creator>
				<category><![CDATA[Mengasuh Anak]]></category>
		<category><![CDATA[legenda]]></category>
		<category><![CDATA[mama]]></category>
		<category><![CDATA[super]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lpmi.org/?p=185</guid>
		<description><![CDATA[Lebih cepat dari anak-anak yang berlarian, Barbara Rainey, co-author dari buku ‘Menjadi orang tua Anak-anak Remaja sekarang’ (Parenting Today’s Adolescent), memahami tekanan untuk menjadi sempurna.”Tekanan itu akibat dari harapan-harapan yang kita miliki yang mungkin tidak sesuai dengan kehendak Tuhan”  demikian ibu dari 6 orang anak ini menjelaskan. “Allah jelas menghendaki iman kita tumbuh dan supaya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Lebih cepat dari anak-anak yang berlarian, Barbara Rainey, co-author dari buku ‘Menjadi orang tua Anak-anak Remaja sekarang’ (Parenting Today’s Adolescent), memahami tekanan untuk menjadi sempurna.”Tekanan itu akibat dari harapan-harapan yang kita miliki yang mungkin tidak sesuai dengan kehendak Tuhan”  demikian ibu dari 6 orang anak ini menjelaskan. “Allah jelas menghendaki iman kita tumbuh dan supaya kita dapat membesarkan anak-anak agar menjadi orang dewasa yang saleh.Saya kira kita sering mengalami kesulitan untuk mencapai tujuan itu”.</p>
<p><span id="more-185"></span>Perasaan gagal muncul ketika anak-anak anda tidak terlibat dalam aktivitas yang baik atau di sekolah favorit dan anda menjadi kecewa. Pandangan bahwa saudara adalah orang Kristen yang tidak baik jika tidak melayani orang sekitar anda dan aktif dalam kegiatan gereja membuat ibu-ibu merasa bersalah.ditambah lagi keinginan untuk berolah raga, menata rumah dengan rapi, membantu persiapan suami.semuanya dapat membuat ibu-ibu putus-asa.</p>
<p>“Sering kali di balik senyuman kita ada rasa frustasi yang memuncak dan akan muncul dalam bentuk-bentuk yang lain.” tulis Carol Kuyhendall, Direktur pelayanan untuk ibu-ibu,”Kita kurang sabar, mudah marah dan sering sakit kepala”.</p>
<p>Bersyukur, dengan  kuasa Allah,sebagai sumber kekuatan, ibu-ibu dapat mengalahkan perasaan kecewa dan menghancurkan tipu daya iblis. Ibu-ibu hanya perlu memenuhi harapan yang paling penting  yaitu harapan Allah.</p>
<p>Prioritas Allah pada anda berbeda sebagai ibu yang memiliki anak-anak, sebagai single atau sebagai ibu tanpa anak. Harapan-harapan Allah juga berbeda antara satu orang dengan yang lain, hanya Allah yang dapat mengatakan kepada anda apa yang dapat dan tidak dapat saudara lakukan. Dengan kata lain hanya Allahlah yang dapat menilai saudara.</p>
<p>Nancy Kern frustasi menghadapi tekanan untuk menjadi ibu yang sempurna dari dua anak laki-lakinya, apalagi ketika anak keduanya menyita perhatiannya.Ia begitu aktif, menyebabkan berbagai masalah di sekolah dan dihatinya.” Saya tidak tahu bagaimana menolong dia agar dapat tenang dan menyesuaikan diri di sekolah,” kata Nancy.</p>
<p>Nancy sadar bahwa dia harus membuang segala pandangan tentang kesempurnaan. Sekarang tujuan utamanya adalah mengasihi anak-anaknya dan memperkenalkan mereka pada Yesus.</p>
<p>Ibu-ibu rumah tangga juga menghadapi pandangan bahwa mereka memiliki banyak waktu untuk kegiatan sosial,gereja atau kegiatan-kegiatan lain yang membutuhkan komitmen. “Saya merasa kecewa dan merasa bersalah karena tidak melakukan hal-hal itu.”kata Nancy.”Tetapi saya sadar jika hari itu Allah menghendaki saya untuk mengajar atau membacakan cerita untuk anak saya itu saja yang akan saya lakukan .” Nancy bertahan untuk lebih memperhatikan anak-anak dan keluarga dari pada aktif berbagai macam kegiatan. Sekarang anak-anaknya sudah dewasa dan menikah dan membangun keluarga kristen yang bahagia.</p>
<p>Sebagai wanita karir, Cindy Coron juga memahami apa kehendak Tuhan bagi dirinya.Sebagai istri dan ibu dari dua anak remaja dan dua anak asuh remaja, Cindy tahu bahwa tekanan untuk menjadi ibu yang super datang dari dalam dirinya dan bukan dari Allah.Cindy berkata,”Sejak lama,jika ada hal-hal yang salah terjadi atau kurang.Saya yakin itu adalah tanggung jawap saya.  Sekarang saya tahu bahwa dalam Kristus tidak ada penghakiman.” Ia sadar jika ia masak nasi terlalu kasar tidak ada yang akan meninggal. Juga, jika ia tidak dapat mempersiapkan masakan makan malam, beli makanan dan lauk pauk matang juga tidak apa-apa. Walaupun begitu Cindy mengakui bahwa ia membutuhkan pertolongan dari Allah dan suaminya. Ia atau suaminya bergantian harus ada di rumah pada jam-jam pulang sekolah: tiga hari Cindy bekerja di Rumah; dua hari yang lain Alan yang di rumah. Ini adalah pengorbanan tetapi mereka menanggung bersama.”Kami ingin mereka tahu bahwa pulang sekolah ada orang tua yang sedang menunggunya.”</p>
<p>Enam tahun lalu, Janet Lecy harus melihat kembali prioritas-prioritasnya ketika ia pindah dengan keluarganya, seorang anak berumur dua tahun, satu tahun dan satu lagi masih dikandung. Janet adalah ibu rumah tangga sepenuhnya di rumah. Ia merasa terjebak dalam situasi dan perkembangan keluarga. Suaminya, Jerry selalu membawa mobil satu-satunya untuk bekerja. Untuk membantu, Jerry memberi kesempatan Janet satu hari seminggu untuk membawa mobil sementara Jerry menjaga anak-anak di rumah.</p>
<p>“Suatu hari, saya memikirkan segala hal yang  ingin saya lakukan, ke mall atau ke toserba untuk berbelanja.” Kata Janet, “Tetapi Tuhan menghendaki saya untuk menghabiskan waktu dengan Jerry dan anak-anak.” Jadi satu hari seminggu Janet pergi ke taman, Kadang ia membaca buku atau Allkitab, kadang berdoa atau memuji Tuhan.</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-192" title="tegoeh" src="http://lpmi.org/wp-content/uploads/2009/10/tegoeh.jpg" alt="tegoeh Legenda Mama Super" width="78" height="88" /></p>
<p><strong><em>Tegoeh Hari Santosa</em></strong></p>
<br/><a href="http://www.Tagenie.com/submit.php?url=http://www.lpmi.org/legenda-mama-super/&title=Legenda+Mama+Super" target="_blank"><img src="http://www.Tagenie.com/bookmark.gif" border="0" alt="Social Bookmarking" title="Legenda Mama Super" /></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.lpmi.org/legenda-mama-super/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>MENGARAHKAN ANAK PANAH</title>
		<link>http://www.lpmi.org/mengarahkan-anak-panah/</link>
		<comments>http://www.lpmi.org/mengarahkan-anak-panah/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 24 Oct 2009 03:51:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>herys</dc:creator>
				<category><![CDATA[Mengasuh Anak]]></category>
		<category><![CDATA[anak panah]]></category>
		<category><![CDATA[mengarahkan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lpmi.org/?p=178</guid>
		<description><![CDATA[“Seperti anak-anak panah di tangan pahlawan, demikianlah anak-anak pada masa muda.” Mazmur 127:4
Anak panah akan mengarah sesuai bidikan pemanahnya. Terlebih yang melepaskan anak panah adalah pahlawan. Tak kan meleset! Seperti itulah anak-anak di tangan orang tuanya.
Apa yang dinyatakan dalam firman Tuhan ini menjelaskan betapa berat tangung jawab orang tua dalam mendidik anaknya. Namun tanggung jawab [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>“Seperti anak-anak panah di tangan pahlawan, demikianlah anak-anak pada masa muda.” Mazmur 127:4</p>
<p>Anak panah akan mengarah sesuai bidikan pemanahnya. Terlebih yang melepaskan anak panah adalah pahlawan. Tak kan meleset! Seperti itulah anak-anak di tangan orang tuanya.</p>
<p>Apa yang dinyatakan dalam firman Tuhan ini menjelaskan betapa berat tangung jawab orang tua dalam mendidik anaknya. Namun tanggung jawab yang besar ini sekaligus memberikan sukacita yang besar ketika anak panah mengenai sasaran yang ditargetkan oleh Allah. Sebaliknya, jika dilepaskan menjauh dari target yang ditetapkan Allah maka akan menghasilkan penderitaan bagi orang tua, anak itu sendiri dan lingkungannya.</p>
<p><span id="more-178"></span>Tentang hal ini satu arahan penting yang diberikan Tuhan kepada orang tua tercatat dalam Efesus 6:4 “&#8230;bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan.”</p>
<p>Perhatikan bahwa perintah itu mengontraskan antara membangkitkan amarah dengan mendidik di dalam ajaran dan nasihat Tuhan. Dengan kata lain, membangkitkan amarah pada anak hanya akan menjauhkan anak dari target Allah.</p>
<p>Mengapa membangkitkan amarah pada anak akan menjauhkan anak dari target Allah? Gambaran tentang kebenaran tersebut terungkap melalui anak muda ini.</p>
<p>Ia mengusap air mata di wajahnya. Air mata kebencian yang dingin, pahit dan membuat frustasi. Kebencian atas masyarakat dan semua kekuasaan, terutama kekuasaan ayahnya dan gereja. Ia selalu ingat bagaimana pukulan kejam ayahnya sering menimpanya tanpa sebab. Bahkan saat itu ia tidak lagi bisa menangis ketika kepalan dan cambuk menghantam tubuhnya. Saat ini semuanya terasa lebih sakit ketika gereja mengasingkannya. Dalam sebuah sel kecil tanpa cahaya, tanpa alas selain jerami di atas batu-batu, hanya ditemani Peter si tikus yang seolah hanya satu-satunya teman yang mengerti tentangnya, dan kecoak-kecoak yang menyebarkan aroma pesing.</p>
<p>Semua ini ia jalani karena ia berpikir di luar apa yang diajarkan di seminarinya, Tylis Theological Seminary. Karena itu ia harus menjalani hukuman yang begitu keras. Hingga akhirnya ia dikeluarkan dari seminari. Soso, demikian teman-temannya memanggilnya, bertekat untuk menjadi pemimpin yang berkuasa. Dia selama ini ditindas oleh kekuasaan, dan sekarang ia ingin menaklukkannya. Kariernya di partai komunis menanjak begitu cepat. Dan orang yang lahir dengan nama Josep V. Dzugashvili ini dikenal dalam sejarah sebagai Joseph Stalin.</p>
<p>Stalin adalah orang terkejam selain Adolf Hitler, dan paling brutal yang pernah dicatat dalam sejarah. Ia bertanggung jawab atas kematian banyak manusia dari pada yang dilakukan orang lain, kecuali Hitler.</p>
<p>Seandainya ia mendapatkan kasih dan didikan dari ayahnya, dan disiplin yang benar dari seminarinya, mungkin ia akan menjadi pastor yang membawa banyak orang mengenal Kristus dan bukan sebaliknya membawa hampir seperempat dunia menjauhi Allah sebagai ateis dan komunis. (dikutip dari Failures who change history, Donald S. H. Besore)</p>
<p>Inilah faktanya: seorang anak tak punya kuasa untuk melawan kekuasaan yang besar atasnya. Dia mungkin tak berdaya melawan ayahnya ketika diperlakukan dengan buruk. Dia hanya bisa memendam kemarahan itu, memampatkannya hingga tekanan yang sangat tinggi. Dan meledak menjadi perlawanan kepada dunia ketika ia sudah merasa bisa hidup mandiri.</p>
<p>Kita para orang tua tentu tidak mau merugi pada masa tua kita, ketika anak-anak tidak lagi tinggal di rumah kita, dan kita hanya bisa memandang mereka dengan rasa sesal atas didikan yang kita berikan selagi mereka muda.</p>
<p>Tuhan mengingatkan hal ini selagi kita bisa mengubahnya sekarang. Atau &#8230; semua terlambat!</p>
<br/><a href="http://www.Tagenie.com/submit.php?url=http://www.lpmi.org/mengarahkan-anak-panah/&title=MENGARAHKAN+ANAK+PANAH" target="_blank"><img src="http://www.Tagenie.com/bookmark.gif" border="0" alt="Social Bookmarking" title="MENGARAHKAN ANAK PANAH" /></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.lpmi.org/mengarahkan-anak-panah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Membangun Keluarga Di Atas Batu</title>
		<link>http://www.lpmi.org/membangun-keluarga-di-atas-batu/</link>
		<comments>http://www.lpmi.org/membangun-keluarga-di-atas-batu/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Oct 2009 15:54:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>herys</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pertumbuhan Rohani]]></category>
		<category><![CDATA[batu]]></category>
		<category><![CDATA[keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[membangun]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lpmi.org/?p=165</guid>
		<description><![CDATA[Membangun perkawinan yang diberkati Kristus sama seperti orang bijaksana yang mendirikan rumahnya di atas batu. Ketika hujan, angin, dan banjir melanda, rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu.
Diberkati Kristus bukan sekedar perkawinan yang dilaksanakan di gedung gereja, tetapi perkawinan yang dilakukan oleh laki-laki dan perempuan yang seimbang. Seimbang di sini menunjuk pada apa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Membangun perkawinan yang diberkati Kristus sama seperti orang bijaksana yang mendirikan rumahnya di atas batu. Ketika hujan, angin, dan banjir melanda, rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu.</p>
<p>Diberkati Kristus bukan sekedar perkawinan yang dilaksanakan di gedung gereja, tetapi perkawinan yang dilakukan oleh laki-laki dan perempuan yang seimbang. Seimbang di sini menunjuk pada apa yang tertulis dalam Alkitab, ” Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap?” 2 Korintus 6:14. Memaksakan hanya sekedar melangsungkan perkawinan di gereja tidak menjadikan perkawinan itu diberkati Kristus, jika salah satu atau keduanya tidak dalam posisi telah <strong>dipindahkan</strong> dari kerajaan gelap menuju kerajaan terang seperti tertulis dalam Efesus 5:8  “Memang dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan.”</p>
<p>Tidak sedikit orang menikah di gereja hanya sekedar untuk syarat dapat menikahi pria atau wanita Kristen dan setelah itu terjadi pengingkaran terhadap Kristus. Yang terjadi berikutnya hanyalah kisah penderitaan atau rumah tangga itu tersapu bersih seperti rumah yang dibangun di atas pasir yang terkena hujan badai.</p>
<p>Keyakinan adanya hubungan yang benar dengan TUHAN melalui Kristus merupakan pondasi yang benar dalam perkawinan. Perkawinan bukan sekedar penyatuan fisik tapi juga jiwa. Penyatuan fisik dapat dilakukan oleh siapa saja (sesungguhnya itu bukan penyatuan yang sesungguhnya) tetapi penyatuan jiwa dan roh hanya terjadi karena karya Roh Kudus. Oleh karena itu Kristus secara tegas mengatakan tentang mereka yang perkawinannya diberkati Kristus, “Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.&#8221; Mat 19:6</p>
<p>Perhatikan gambar berikut ini:</p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-164" title="ONENESS" src="http://lpmi.org/wp-content/uploads/2009/10/ONENESS.gif" alt="ONENESS Membangun Keluarga Di Atas Batu" width="411" height="189" /></p>
<p>Menjadi satu hanya dapat terjadi ketika kedua-duanya telah menjadi manusia terang  karena menerima dengan iman penebusan yang dilakukan oleh Kristus Yesus. Penebusan itu yang menyebabkan seseorang kembali memiliki hubungan dengan Allah dan berpotensi untuk berada dalam otoritas Allah senantiasa. Alkitab menggambarkan hubungan dan otoritas itu sebagai berikut. “Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.” Yohanes 15:5</p>
<p>Karena masing-masing terhubung dengan Allah, maka ada penyelaras yang menjadikan perbedaan di antara pasangan tersebut menjadi satu.</p>
<p>Jika saudara belum yakin terhadap hubungan saudara dengan Allah, klik <a href="http://lpmi.org/mengenal-allah-secara-pribadi/">Mengenal Allah Secara Pribadi</a>.</p>
<br/><a href="http://www.Tagenie.com/submit.php?url=http://www.lpmi.org/membangun-keluarga-di-atas-batu/&title=Membangun+Keluarga+Di+Atas+Batu" target="_blank"><img src="http://www.Tagenie.com/bookmark.gif" border="0" alt="Social Bookmarking" title="Membangun Keluarga Di Atas Batu" /></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.lpmi.org/membangun-keluarga-di-atas-batu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hamba TUHAN Yang Bertobat</title>
		<link>http://www.lpmi.org/hamba-tuhan-yang-bertobat/</link>
		<comments>http://www.lpmi.org/hamba-tuhan-yang-bertobat/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Oct 2009 05:54:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>herys</dc:creator>
				<category><![CDATA[Movements Maker]]></category>
		<category><![CDATA[bertobat]]></category>
		<category><![CDATA[hamba]]></category>
		<category><![CDATA[TUHAN]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lpmi.org/?p=154</guid>
		<description><![CDATA[Purpose Driven Life campign bukan saja telah dimanfaatkan oleh gereja-gereja untuk membangun pertumbuhan jemaat, tetapi juga telah menjadi berkat di Lembaga Pemasyarakatan, khusunya untuk para narapidana. Berikut ini beberapa kesaksian dari mereka yang mendapat berkat.
 
HAMBA TUHAN YANG BERTOBAT
Kisah dari LP Tangerang
Namaku Markus (bukan nama sebenarnya). Sebenarnya aku malu bersaksi, aku adalah orang yang tidak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Purpose Driven Life campign </strong>bukan saja telah dimanfaatkan oleh gereja-gereja untuk membangun pertumbuhan jemaat, tetapi juga telah menjadi berkat di Lembaga Pemasyarakatan, khusunya untuk para narapidana. Berikut ini beberapa kesaksian dari mereka yang mendapat berkat.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>HAMBA TUHAN YANG BERTOBAT</strong></p>
<p>Kisah dari LP Tangerang</p>
<p>Namaku Markus<strong> </strong><em>(bukan nama sebenarnya). </em>Sebenarnya aku malu bersaksi, aku adalah orang yang tidak tahu diri. Sebelum aku masuk ke dalam Lembaga Pemasyarakatan ini, aku adalah seorang pelayan Tuhan yang melayani di sebuah gereja di daerah Jakarta Barat. Ketidak mampuanku menguasai diri, akhirnya berdampak pada kehidupanku.</p>
<p><img title="More..." src="http://lpmi.org/wp-includes/js/tinymce/plugins/wordpress/img/trans.gif" alt="trans Hamba TUHAN Yang Bertobat"  />Walaupun aku telah terjun dalam dunia pelayanan, namun kehidupanku sesungguhnya tidaklah mencerminkan seorang hamba Tuhan. Aku berlaku munafik di dalam hidup ini. Ketika aku harus melayani, dan berada ditengah-tengah anak Tuhan, aku berlaku seperti seorang malaikat suci, tetapi ketika aku berada dalam dunia lain, aku seperti srigala berbulu domba yang gemar berganti-ganti wanita. Bagiku tiada hari tanpa wanita.</p>
<p>Satu perkara akhirnya membawa aku berada di LP ini, dan dua tahun lebih aku harus menjalani masa hukumanku.Untuk mengisi hari-hariku di Lembaga Pemasyarakatan ini, setiap hari aku mengikuti kebaktian. Walau aku tidak pernah mendapatkan berkat-berkat dari setiap Firman yang di taburkan dalam setiap ibadahnya. Latar belakangku yang telah menjadi pelayan Tuhan, membuat aku ogah-ogahan untuk serius mendengar firman Tuhan, karena aku berfikir aku sudah mengerti akan ayat yang disampaikan. Kesombonganku menutup berkat-berkatku.</p>
<p>Sampai akhirnya aku mengikuti program Purpose Driven ini. Buku Purpose Driven Life karangan Rick Warren dibagikan kepada setiap narapidana termaksuk aku, namun aku menerimanya dengan dingin, karena aku tahu aku tidak akan pernah membacanya. Tapi entah kenapa, pada suatu hari saat aku tidak melakukan apa-apa di dalam kamar selku, iseng-iseng aku mulai membaca buku ini. Halaman demi halaman mulai kubaca dengan serius, aku tidak lagi mengikuti anjuran dalam membaca buku ini untuk menyelesaikannya selama 40 hari, tetapi dalam seminggu aku telah menyelesaikannya. Setelah selesai membaca buku ini, aku semakin mengerti apa yang menjadi tujuan aku dilahirkan di muka bumi ini. Walaupun aku tadinya seorang pelayan Tuhan, namun tujuan hidupku sesungguhnya adalah, uang, kedudukan dan wanita.</p>
<p>Program ini menyadarkan aku, untuk kembali ketujuan Allah dalam hidupku “Menyenangkan Dia yang telah mengasihi ku.” Mulai saat itu semangatku untuk kembali melayani Dia semakin bertambah-tambah dan kini aku memulainya dalam pelayanan di Lembaga Pemasyarakatan ini. Aku bersyukur, aku boleh mengikuti seluruh program ini sampai selesai. Bagiku pribadi,program ini mendatangkan berkat-berkat yang luar biasa bagiku. Melalui program inilah aku diubahkan. Tuhan Memberkati</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>DENDAM YANG TERHAPUS</strong></p>
<p>Kisah dari LP Wanita Tangerang</p>
<p>Apa yang aku alami saat ini, merupakan mimpi buruk dalam hidupku. Aku tidak pernah membayangkan sebelumnya, bahwa aku akan hidup di balik terali besi. Aku dilahirkan 34 tahun yang lalu, ditengah-tengah</p>
<p>keluarga yang tidak berkecukupan. Ayah dan ibuku China dari jakarta. Aku diberi nama Linda (bukan nama sebenarnya)  oleh orang Tuaku.Masa kecilku kulalui dengan biasa-biasa saja, bahkan boleh dibilang aku harus melaluinya dengan keringat, karena aku harus ikut membantu ekonomi keluarga.</p>
<p>Aku yang dulu bebas bercengkerama dengan siapapun, kini harus menerima kenyataan, bahwa aku seorang narapidana yang hidup di balik terali besi dan terasing dari keluarga besarku. Beban berat dan stress yang aku alami dalamrumah tanggaku, khususnya di bidang ekonomi setelah kelahiran anakku yang kedua, akhirnya membawa aku ke dalam dunia peredaran obat-obatan. Diskotik demi diskotik aku jelajahi hampir setiap malam, untuk membawa barang pesanan, sampai akhirnya aku dikhianati teman dan dijebloskan ke penjara. Aku menjadi seorang napi yang divonis 3 tahun 10 bulan</p>
<p>Dunia sepertinya kiamat bagiku, karena aku tidak pernah membayangkan jalan hidupku seperti ini, rasa kuatir, kecewa, takut,dendam dan benci terus menerus muncul dalam hatiku. Aku tidak dapat menerima kenyataan bahwa aku dikhianati oleh teman baikku sendiri. Pada saat itu timbul dalam pikiranku untuk membuat perhitungan dengan teman yang membuat aku seperti ini, selepas aku dari Lembaga Pemasyarakatan. Bulan demi bulan perasaan itu terus kupelihara dan setiap saat terus membara dalam hatiku. Tapi aku bersyukur kini menjelang kebebasanku pada tanggal 17 Agustus ini, hidupku tidak lagi dipenuhi dengan kekecewaan, balas dendam dan kebencian. Perubahan yang aku dapatkan ini, berkat pelajaran dari program Purpose Driven Life. Aku menemukan hal-hal yang baru dalam hidupku. “Diciptakan Untuk Menjadi Serupa dengan Kristus” adalah tema favoritku,karena melalui pelajaran inilah aku mampu menyelesaikan keinginan balas dendam dan kebencian di dalam hatiku. Sehingga kebencian yang pernah ada dalam hatiku akhirnya pergi meninggalkanku.</p>
<p>Aku berjanji setelah keluar nanti, aku tidak akan pernah kembali lagi pada kehidupanku yang lama,karena sekarang aku tahu apa tujuan hidupku di muka bumi ini, yaitu menyenangkan hati Bapa.</p>
<br/><a href="http://www.Tagenie.com/submit.php?url=http://www.lpmi.org/hamba-tuhan-yang-bertobat/&title=Hamba+TUHAN+Yang+Bertobat" target="_blank"><img src="http://www.Tagenie.com/bookmark.gif" border="0" alt="Social Bookmarking" title="Hamba TUHAN Yang Bertobat" /></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.lpmi.org/hamba-tuhan-yang-bertobat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>YESUS Mengutuk Pohon Ara</title>
		<link>http://www.lpmi.org/yesus-mengutuk-pohon-ara/</link>
		<comments>http://www.lpmi.org/yesus-mengutuk-pohon-ara/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Oct 2009 06:42:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>herys</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pertumbuhan Rohani]]></category>
		<category><![CDATA[ara]]></category>
		<category><![CDATA[mengutuk]]></category>
		<category><![CDATA[pohon]]></category>
		<category><![CDATA[Yesus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lpmi.org/?p=140</guid>
		<description><![CDATA[Sebuah pelajaran bagi penatalayanan keluarga
Matius 21:19-20
Dekat jalan Ia melihat pohon ara lalu pergi ke situ, tetapi Ia tidak mendapat apa-apa pada pohon itu selain daun-daun saja. Kata-Nya kepada pohon itu:”Engkau tidak akan berbuah lagi selama-lamanya!” Dan seketika itu juga keringlah pohon ara itu. Melihat kejadian itu tercenganglah murid-murid-Nya, lalu berkata: ”Bagaimana mungkin pohon itu sekonyong-konyong [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Sebuah pelajaran bagi penatalayanan keluarga</strong></p>
<p><strong>Matius 21:19-20</strong></p>
<p>Dekat jalan Ia melihat pohon ara lalu pergi ke situ, tetapi Ia tidak mendapat apa-apa pada pohon itu selain daun-daun saja. Kata-Nya kepada pohon itu:”Engkau tidak akan berbuah lagi selama-lamanya!” Dan seketika itu juga keringlah pohon ara itu. Melihat kejadian itu tercenganglah murid-murid-Nya, lalu berkata: ”Bagaimana mungkin pohon itu sekonyong-konyong menjadi kering?”</p>
<p>Pohon ara yang dikutuk itu tiba-tiba menjadi kering! (pemaparan Markus, keringnya pohon ara tersebut baru diketahui esok harinya.) Peristiwa itu pasti akan mengejutkan siapapun yang menyaksikannya, demikian juga murid-murid Yesus. Dan ternyata pertanyaan yang muncul dari murid-murid-Nya merupakan pertanyaan umum yang akan ditanyakan semua orang yang menyaksikannya, dan itu berasal dari ketakjuban mereka, sesuatu yang mustahil secara akal,  ”Bagaimana mungkin?”</p>
<p><span id="more-140"></span>Yesus akhirnya mengajarkan tentang iman sebagai jawabannya. Tetapi kali ini saya tidak membahas tentang iman, karena sesungguhnya ada sebuah pertanyaan yang menggelitik si balik peristiwa itu dan sering disalah-pahami para pembaca Alkitab. Mengapa Yesus memilih mengutuki pohon ara dari pada memberkati sehingga berbuah dan bermanfaat? Bukankah itu hanya akan memberikan gambaran yang kejam tentang Tuhan? Pengajaran apakah sesungguhnya yang ingin Ia sampaikan tetapi tidak pernah Ia jelaskan?</p>
<p><strong>Pohon ara lambang kemakmuran</strong></p>
<p>Menurut ensiklopedi Wikipedia, ada 800-an jenis pohon ara, namun ada tiga jenis yang menonjol dalam peristiwa di Alkitab yaitu ara Ficus Sycomorus, ara Morus Nigra L, dan ara Ficus Carica L. Jenis terakhir inilah yang diperkirakan di kutuk oleh Yesus sesuai Matius 21:19-22.</p>
<p>Penting untuk kita pahami bahwa pohon ara sering dihubungkan dengan janji-janji Allah tentang kemakmuran (Zakaria 3:10; 1 Raja-raja 4:25). Ada pepatah yang menggambarkan orang-orang yang makmur adalah orang yang ”berdiam masing-masing di bawah pohon anggur dan pohon aranya.” Buah ara di samping pohon anggur menjadi komoditas ekonomi yang berharga. Pada zaman Yunani buah ara dipandang sebagai begitu penting untuk perekonomiannya sehingga orang Yunani membuat undang-undang khusus untuk mengatur pengeksporannya. Daunnya dapat dimanfaatkan untuk membungkus buah-buahan yang baru dipetik untuk dibawa ke pasar dan sekarang ini menjadi komoditas yang mahal. Buah ara selain dapat dimakan langsung, juga dapat dibuat kue yang mahal harganya, karena makanan inipun biasa dihidangkan bagi raja-raja. (2Raja-raja 20:7; Yesaya 38:27). Jenis pohon ara yang dikutuk oleh Yesus dapat memberi buah selama kurang lebih 10 bulan setiap tahunnya.</p>
<p>Jikalau pohon ara mempunyai nilai ekonomi yang tinggi dan menjadi sumber penghidupan, mungkin kita dapat membandingkannya dengan pekerjaan-pekerjaan kita pada masa kini. Pada masa kini, pekerjaan kita menjadi sumber penghidupan. Kemakmuran secara ekonomi seseorang diukur dengan penghasilannya dari pekerjaan yang dimiliki. Bagi sebuah negara, semakin tinggi pendapatan nasionalnya semakin makmur bangsa itu.</p>
<p><strong>Tidak semua buah menjadi hak pemiliknya</strong></p>
<p>Yang menarik adalah ternyata dalam masa berbuah setiap tahun tersebut, berlangsung dalam tiga tahap atau tiga musim.</p>
<p>Tahap pertama disebut ”musim buah bikurah” atau ”buah sulung”. Ensiklopedi Alkitab menyebutnya sebagai buah ara hijau. Orang Israel mempunyai ketetapan bahwa buah sulung itu milik Tuhan.</p>
<p>Tahap kedua disebut ”musim buah ara” atau juga musim buah ara bungaran, rasanya segar dan enak serta buahnya paling banyak. Pada musim buah ara, pemilik pohon berhak memanfaatkannya untuk penghidupannya. Ini berarti menjadi komoditas ekonomi.</p>
<p>Pada saat Tuhan Yesus mengutuk pohon ara, tahap berbuah ini atau ”musim buah ara” sudah lewat. Markus mencatatnya dengan tepat ”&#8230;Tetapi waktu Ia tiba di situ, Ia tidak mendapat apa-apa selain daun-daun saja, sebab memang bukan musim buah ara.” (Markus 11:13). Pernyataan Markus ini jika tidak dipahami dengan benar maka pembaca akan melihat sifat Yesus yang sewenang-wenang. Kalau memang bukan musim buah ara mengapa marah dan mengutuk ketika tidak menemukan buahnya?</p>
<p>Sebagai orang yang mau belajar, kita harus melihat bahwa kalau Yesus marah mendapati pohon ara sudah tidak ada buahnya, pasti ada alasannya. Alasannya adalah, seharusnya masih ada buah ara, karena setelah musim buah ara lewat, pohon masih tetap menghasilkan buah dengan memasuki musim berbuah tahap ketiga.</p>
<p>Tahap ketiga disebut ”musim buah pag”. Pada musim ini pohon tidak menghasilkan buah sebanyak dan sesegar musim buah ara. Orang-orang Israel menetapkan bahwa pada musim ini pemilik tidak boleh mengambil buahnya. Buah ini merupakan hak dari orang-orang Lewi dan orang-orang berkekurangan. Hak itu pun hanya dapat dimanfaatkan oleh mereka bukan untuk disimpan sebagai cadangan makanan, tetapi diambil secukupnya untuk kebutuhan saat itu, maupun pada saat dalam perjalanan. Buah ara memang tidak dapat tahan lama setelah dipetik. Tampaknya Yesus datang mencari buah ara pada musim buah tahap ketiga ini, dan Ia sudah tidak menemukan apa-apa.</p>
<p><strong>PELAJARAN</strong></p>
<p><strong>1. Yesus ingin kita menjadi penatalayan yang baik</strong></p>
<p>Mengapa buah pada musim buah pag sudah habis? Ada dua alasan yang mungkin terjadi. Pertama, pemiliknya mengabaikan aturan yang mengharuskan buah pada tahap ketiga ini untuk orang Lewi dan orang berkekurangan. Mereka memanennya untuk diri sendiri. Di sini kita melihat sifat manusia yang cenderung tergoda untuk memuaskan keinginannya sendiri, memperkaya diri sendiri dengan mengambil yang bukan menjadi haknya.</p>
<p>Bangsa Israel mempunyai aturan yang unik tentang sebuah keseimbangan. Dari kedua belas suku Israel, suku Lewi tidak mempunyai hak atas milik pusaka tanah perjanjian dan mengusahakan untuk penghidupannya. Mereka mempunyai tanggung jawab khusus asebagai pengurus rumah Tuhan dan hal-hal yang berhubungan dengan kerohanian umat Israel. Sebagai gantinya, Tuhan menetapkan bahwa mereka berhak mendapatkan penghidupan dari perpuluhan kesebelas suku Israel lainnya. (Bilangan 18:21) Aturan ini berlaku juga untuk kasus yang sedang kita bicarakan tentang buah ara. Inilah keseimabngan, “Sebab kamu dibebani bukanlah supaya orang-orang ;lain mendapat keringanan, tetapi supaya ada keseimbangan. Maka hendaklah sekarang ini kelebihan kamu mencukupkan kekurangan mereka, agar kelebihan mereka kemudian mencukupkan kekurangan kamu, supaya ada keseimbangan.” (2 Korintus 8:13-14)</p>
<p>Yesus tampaknya ingin mengatakan kepada kita bahwa orang-orang yang sudah dipercayai untuk menjadi pemilik dan pengelola pohon ara, atau pekerjaan apapun juga, harus melaksanakan tanggung jawabnya menjaga keseimbangan. Di sini Yesus menonjolkan tentang prinsip penatalayanan. Kita bisa membandingkan tindakan Yesus mengutuk pohon ara ini dengan perumpamaan tentang talenta. Ketika seseorang dipercayakan talenta kepadanya, ia harus mengelolanya untuk tuannya, bukan untuk diri sendiri. Itu adalah prinsip penatalayanan, menata apa yang sudah dipercayakan kepadanya dengan sikap hati sebagai penatalayan Tuhan.</p>
<p><strong>2. Yesus mengingatkan supaya kita belajar mencukupkan dengan apa yang ada</strong></p>
<p>Inilah kemungkinan kedua mengapa buah ara itu habis. Ada oknum orang Lewi atau orang berkekurangan yang memanfaatkan kesempatan dengan mengambil secara berlebihan. Merasa itu adalah haknya, golongan inipun merusak keseimbangan dengan melupakan bahwa yang berhak bukan hanya dia sendiri.</p>
<p>Buah ara segar hanya dapat bertahan sebentar. Menurut informasi, saat ini sekalipun ada alat pendingin, buah ara yang didinginkan hanya bisa bertahan 2-3 hari saja. Dengan demikian orang-orang yang memerlukannya saat lapar dalam perjalanan, cukup mengambil untuk dirinya pada hari itu.</p>
<p>Hamba-hamba Tuhan pada jaman ini yang mewakili keberadaan orang-orang Lewi pada kasus ini, harus belajar menerima kecukupan kebutuhan hidup keluarga dan pelayanannya tidak secara berlebihan. Bagaimana kita tahu kalau itu berkelebihan? Ketika kita memaksakan diri mememenuhi kebutuhan berdasarkan prestise dan bukan fungsi! Ketika kita berusaha menambahkan lebih dari pada jumlah yang kita butuhkan.</p>
<p>Demikian juga orang-orang berkekurangan harus belajar untuk tidak memanfaatkan kesempatan dari kebaikan hati orang yang mampu melaksanakan tanggung jawab penatalayanan yang baik, dengan menjadi orang yang bergantung tanpa memberikan kontribusi. Menjadi orang berkekurangan secara ekonomi, pengetahuan, dll, bukan berarti tidak mempunyai sesuatu yang dapat diberikan untuk mencukupkan orang lain lagi.</p>
<p>Jadi kalau Yesus mengutuk pohon ara hingga mati, siapakah yang akan merugi? Pertama, pemiliknya. Kedua orang-orang Lewi dan orang-orang berkekurangan. Tuhan tidak kejam. Karena Dialah yang memberikan hidup dan pertumbuhan kepada pohon ara itu, Dia pula yang berhak mengambil kehidupan itu kapan pun jika tidak lagi berguna sebagaimana tujuan semestinya. Terutama Tuhan ingin mengingatkan kita para pembaca, supaya kita melaksanakan apa yang menjadi tanggung jawab kita dengan baik!</p>
<br/><a href="http://www.Tagenie.com/submit.php?url=http://www.lpmi.org/yesus-mengutuk-pohon-ara/&title=YESUS+Mengutuk+Pohon+Ara" target="_blank"><img src="http://www.Tagenie.com/bookmark.gif" border="0" alt="Social Bookmarking" title="YESUS Mengutuk Pohon Ara" /></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.lpmi.org/yesus-mengutuk-pohon-ara/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Konflik Dalam Perkawinan</title>
		<link>http://www.lpmi.org/konflik-dalam-perkawinan/</link>
		<comments>http://www.lpmi.org/konflik-dalam-perkawinan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 17 Oct 2009 16:37:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>herys</dc:creator>
				<category><![CDATA[Perkawinan]]></category>
		<category><![CDATA[konflik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lpmi.org/?p=117</guid>
		<description><![CDATA[Analisa kimia pada rambut Beethoven menunjukkan bahwa dia menderita keracunan timah hitam sehingga meninggal. Ini bisa jadi menjelaskan tentang penderitaannya akibat sakit dan sikap mudah marahnya yang meledak-ledak.Timah hitam berasal dari piring atau gelas yang ia gunakan selama bertahun-tahun, juga dari minuman anggur atau ikan yang berasal dari sungai yang terpolusi.
Seperti timah hitam yang menjadi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Analisa kimia pada rambut <a href="http://www.abc.net.au/science/news/stories/s201189.htm">Beethoven</a> menunjukkan bahwa dia menderita keracunan timah hitam sehingga meninggal. Ini bisa jadi menjelaskan tentang penderitaannya akibat sakit dan sikap mudah marahnya yang meledak-ledak.Timah hitam berasal dari piring atau gelas yang ia gunakan selama bertahun-tahun, juga dari minuman anggur atau ikan yang berasal dari sungai yang terpolusi.</p>
<p>Seperti timah hitam yang menjadi penyebab kematian <a href="http://www.abc.net.au/science/news/stories/s201189.htm">Beethoven</a>, konflik yang tidak terselesaikan akan menumpuk menjadi racun yang mematikan bagi sebuah perkawinan. Perkawinan mungkin akan tetap tampak utuh, tetapi sesungguhnya hubungan itu sudah sangat rapuh. Perekatnya mungkin hanya  adanya anak-anak dan rasa malu terhadap perceraian.</p>
<p><span id="more-117"></span>Banyak faktor yang memungkinkan menghasilkan konflik. <strong>Perbedaan</strong> kepribadian, perbedaan tujuan hidup, perbedaan latar belakang sosial dan budaya, perbedaan kebiasaan, dan segudang perbedaan lain yang bisa didaftarkan antara suami dan istri. Perbedaan memang berpotensi menghasilkan konflik tapi juga berpotensi merekatkan hubungan. Menjadi konflik jika perbedaan itu tidak dipahami sebagai keunikan pasangan, melainkan sebagai keburukan yang harus dibereskan. Bukan diselaraskan tetapi dihilangkan.</p>
<p>Secara kodrati, laki-laki dan perempuan diciptakan Tuhan berbeda, baik secara biologis maupun emosional. Kemampuan memahami pasangan dapat menyelaraskan perbedaan yang berguna bagi pertumbuhan keduanya. (baca topik: Bagaimana memahami pasangan)</p>
<p>Jikalau perbedaan berpotensi menghasilkan konflik, maka tingkat <strong>pertumbuhan rohani</strong> merupakan penyubur atau penghambat konflik. Tingkat pertumbuhan rohani yang dimaksudkan tidak diukur dari umur seseorang, prestasi kerja, bahkan keterlibatan seseorang dalam pelayanan. Status seseorang sebagai hamba Tuhan  tidak serta merta menunjukkan tingkat pertumbuhan rohaninya. Tingkat pertumbuhan rohani ini adalah tingkat penyerapan kebenaran Allah yang dinyatakan melalui firman-Nya dan kemampuan seseorang untuk menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, sekalipun potensi konflik sangat besar, kesempatan untuk menjadi konflik dapat diredam jika seseorang mengalami pertumbuhan rohani.</p>
<p>Bagaimanakah kita dapat bertumbuh? Keberanian kita untuk terbuka kepada Tuhan menjadi langkah yang amat penting. “Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku;  lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!” Mazmur 139:23-24 Kesadaran ini akan membawa kita pada kerendahan hati untuk dibentuk oleh Tuhan menuju pertumbuhan rohani sebagaimana yang dikehendaki Tuhan.</p>
<p>Kelompok HomeBuilder akan sangat menolong pertumbuhan rohani kita, pasangan suami istri. Kita dapat mengikuti di tempat tinggal kita.</p>
<p>Bagaimanakah jika konflik sudah terjadi dan menjadi begitu akut, menyiksa, dan menjadikan rumah seolah neraka yang tidak mau kita tinggali? Jawabnya adalah <strong>pengampunan</strong>! Sebuah tindakan yang dapat dilakukan oleh semua orang, kaya maupun miskin, berpendidikan maupun tidak, tetapi sulit untuk dilakukan. Tanpa pengampunan, konflik akan menjadi racun yang terus menumpuk dan menghancurkan hubungan perkawinan. Kita harus mengampuni pasangan kita sebagaimana Tuhan sudah mengampuni kita. Sebaliknya kita harus mengambil langkah untuk meminta pengampun dari pasangan kita atas sikap permusuhan yang kita berikan.</p>
<p>Pengampunan adalah langkah penting untuk memulihkan sebuah hubungan yang rusak karena konflik. Jika kita berani mengambil langkah ini, maka jalan menjadi terbuka untuk menikmati pertumbuhan rohani dan kebahagiaan dalam keluarga.</p>
<p><em>“</em><em>Sebab itu kukatakan dan kutegaskan ini kepadamu di dalam Tuhan: Jangan hidup lagi sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan pikirannya yang sia-sia</em><em>.” Efesus 4:17</em></p>
<br/><a href="http://www.Tagenie.com/submit.php?url=http://www.lpmi.org/konflik-dalam-perkawinan/&title=Konflik+Dalam+Perkawinan" target="_blank"><img src="http://www.Tagenie.com/bookmark.gif" border="0" alt="Social Bookmarking" title="Konflik Dalam Perkawinan" /></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.lpmi.org/konflik-dalam-perkawinan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Keharmonisan Dalam Keluarga Di Tengah Kesulitan Hidup</title>
		<link>http://www.lpmi.org/keharmonisan-dalam-keluarga-di-tengah-kesulitan-hidup/</link>
		<comments>http://www.lpmi.org/keharmonisan-dalam-keluarga-di-tengah-kesulitan-hidup/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Oct 2009 18:06:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>herys</dc:creator>
				<category><![CDATA[Perkawinan]]></category>
		<category><![CDATA[keharmonisan]]></category>
		<category><![CDATA[keluarga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lpmi.org/?p=75</guid>
		<description><![CDATA[Fakta
Banyak pernikahan yang bergumul atau bahkan hancur karena pasangan suami-istri tidak mampu menghadapi kesulitan hidup. Sebaliknya tidak sedikit pula  pasangan yang berpikir “kami tidak punya banyak masalah”,  padahal setiap orang memiliki masalah karena kebutuhan yang berbeda, dan tidak ada masalah sekecil apapun yang tidak penting. Anda pasti tahu bahwa kebakaran yang besar berasal dari sebuah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Fakta</strong></p>
<p>Banyak pernikahan yang bergumul atau bahkan hancur karena pasangan suami-istri tidak mampu menghadapi kesulitan hidup. Sebaliknya tidak sedikit pula  pasangan yang berpikir “kami tidak punya banyak masalah”,  padahal setiap orang memiliki masalah karena kebutuhan yang berbeda, dan tidak ada masalah sekecil apapun yang tidak penting. Anda pasti tahu bahwa kebakaran yang besar berasal dari sebuah puntung rokok? Persoalan yang besar sering berasal dari hal-hal yang sepele.</p>
<p><strong>Masalah Utama</strong></p>
<p>Masalah utama sesungguhnya terletak pada kita, dan bukan pada kesulitan yang kita hadapi. Pertama, kebanyakan dari antara kita tidak memiliki sikap yang benar dalam menghadapi pencobaan dan penderitaan. Kedua, kebanyakan dari antara kita tidak mau memikirkannya walaupun tahu suatu saat akan menghadapi penderitaan/pencobaan. Ketiga, sedikit orang di antara kita yang tahu bagaimana menghadapi kesulitan karena tidak mempersiapkan diri untuk menghadapinya jika hal itu tiba.</p>
<p><strong><span id="more-75"></span>Kebenaran</strong>:</p>
<p>Yakubus 1:2-4  dikatakan, “Apabila (when) datang pencobaan…” bukan “jika (if) datang pencobaan….”. Ini berarti pencobaan atau penderitaan pasti akan menghampiri kita. Kita tidak bebas dari penderitaan. Jikalau kita beranggapan bahwa orang yang diberkati terbebas dari penderitaan, maka kita telah menyangkal Allah. Flp 1:29  Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk <em><span style="text-decoration: underline;">menderita</span></em> untuk Dia,</p>
<p>Jadi berbahagialah orang yang telah mempersiapkan diri untuk menghadapi jika penderitaan itu tiba. Kita dapat menarik pelajaran dari kisah berikut ini:</p>
<p>Pada bulan Juni 1995 Scott O Grady,  penerbang pesawat tempur F-16 Amerika tertembak jatuh oleh musuh di daerah utara Bosnia. Enam hari kemudian ia ditemukan oleh tim penyelamat helikopter marinir. Bangsa Amerika kagum pada kisahnya, bagaimana ia bertahan hidup dengan makan serangga, menampung air hujan untuk minum, dan menghindar dari pencarian tim pelacak Bosnia.</p>
<p>Keberhasilan Scott O Grady tak lepas dari latihan yang dia ikuti selama 17 hari untuk bertahan hidup di alam liar, dan menjaga sikap mental positif. Ia benar-benar telah siap menyambut penderitaan itu dan berhasil keluar.</p>
<p><strong>Bersiap dengan memahami perspektif Allah tentang penderitaan</strong></p>
<p>Dalam perspektif Allah, penderitaan yang kita alami selalu bermanfaat. Kita akan mengambil manfaat itu jika kita tahu cara kerja Allah dalam kehidupan pribadi kita dan keluarga kita. Sebaliknya kita akan mengalami penderitaan yang menyengsarakan dan berakhir sebagai orang yang kehilangan.</p>
<p>Sesungguhnya:</p>
<p>Allah memakai semuanya untuk kebaikan kita (Roma 8:28). Allah menguji kualitas iman kita sehingga Kristus dipermuliakan ( I Petrus 1:3-9). Saya memahami kebenaran ini melalui kisah sebuah seterika. Bertahun-tahun lamanya saya tidak memusingkan diri dengan pakaian yang akan saya kenakan. Hingga suatu saat orang yang membantu keluarga kami mengurus rumah memutuskan untuk hidup mandiri. Dan saya berbagi pekerjaan rumah dengan istri. Menyeterika adalah tugas saya. Saya baru sadar bahwa kami belum pernah mengganti seterika setelah lebih dari sepuluh tahun digunakan. Ah, rupanya merek yag kami gunakan mempunyai kualitas yang luar biasa. Saya tidak memperhatikannya bertahun-tahun, dan sekarang saya mengagumi pembuatnya. Kini bahkan saya mempromosikan merek tersebut kepada siapa saja yang membutuhkan, tanpa meminta bayaran kepada pembuatnya atas promosi yang saya lakukan. Demikian juga banyak orang akan kagum kepada Allah kita ketika kita teruji kualitas iman kita.</p>
<p>Dan Allah mempersiapkan kita untuk menerima berkat dalam kemuliaan-Nya  (1 Petrus 4:12-14)</p>
<p><strong>Keyakinan kita</strong></p>
<p>Tidak mudah untuk mempercayai janji Allah. Tetapi tidak mempercayai-Nya sama artinya kita mengatakan bahwa Diaberbohong! Allah tidak dapat berdusta. Yang harus kita lakukan adalah beriman pada janji Allah bahwa Dia menyediakan kekuatan yang kita butuhkan untuk menghadapi setiap situasi (Filipi 4:12-13; I Korintus 10”13). Dia juga menyediakan penghiburan bagi kita (2 Korintus 1:3-4), karena itu kita dapat bersukacita di tengah-tengah kesulitan yang menimpa.</p>
<p>Bersyukurlah kalau kita mempunyai pasangan. Masalah atau kesulitan akan lebih mudah dihadapi. Lebih dari itu, kesulitan yang dihadapi akan semakin mempererat hubungan kita dengan pasangan kita. Dengan kata lain, kesulitan adalah teman terbaik buat keharmonisan rumah tangga kita. Bersama, lebih berhasil! (Pengkhotbah 4:9)</p>
<br/><a href="http://www.Tagenie.com/submit.php?url=http://www.lpmi.org/keharmonisan-dalam-keluarga-di-tengah-kesulitan-hidup/&title=Keharmonisan+Dalam+Keluarga+Di+Tengah+Kesulitan+Hidup" target="_blank"><img src="http://www.Tagenie.com/bookmark.gif" border="0" alt="Social Bookmarking" title="Keharmonisan Dalam Keluarga Di Tengah Kesulitan Hidup" /></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.lpmi.org/keharmonisan-dalam-keluarga-di-tengah-kesulitan-hidup/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Membangun Pernikahan Mengikuti Blueprint Allah</title>
		<link>http://www.lpmi.org/membangun-pernikahan-mengikuti-blueprint-allah/</link>
		<comments>http://www.lpmi.org/membangun-pernikahan-mengikuti-blueprint-allah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Oct 2009 02:59:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>herys</dc:creator>
				<category><![CDATA[Perkawinan]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[membangun]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lpmi.org/?p=16</guid>
		<description><![CDATA[Dr. Gerry &#38; Barbara Rosberg
Ketika seorang pria dan seorang wanita menikah, mereka berdiri di depan saksi-saksi dan mengungkapkan komitmen untuk saling mengasihi seumur hidup. Mereka mengucapkan janji ilahi: “&#8230; saling memiliki dan menjadi satu&#8230; mulai hari ini dan seterusnya &#8230; mengasihi, menghargai, dalam susah dan senang, dalam keadaan kaya maupun miskin, sakit ataupun sehat sampai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong></strong><em>Dr. Gerry &amp; Barbara Rosberg</em></p>
<p>Ketika seorang pria dan seorang wanita menikah, mereka berdiri di depan saksi-saksi dan mengungkapkan komitmen untuk saling mengasihi seumur hidup. Mereka mengucapkan janji ilahi: “&#8230; saling memiliki dan menjadi satu&#8230; mulai hari ini dan seterusnya &#8230; mengasihi, menghargai, dalam susah dan senang, dalam keadaan kaya maupun miskin, sakit ataupun sehat sampai maut memisahkan &#8230;”</p>
<p>Itulah hari bahagia, dan mungkin yang paling indah dalam hidup mereka. Dan setelah bulan madu berlalu, banyak pasangan menyadari bahwa <strong>“jatuh cinta” dan membangun pernikahan yang baik adalah dua hal yang berbeda.</strong> Memegang janji itu lebih sulit dari pada yang pernah dibayangkan.</p>
<p><span id="more-16"></span>Sesungguhnya Allah telah menyiapkan sebuah <em>Blueprint</em> atau rancangan dalam rangka suatu pernikahan yang berhasil. Rancangan-Nya adalah agar pria dan wanita dapat bertumbuh bersama dalam suatu hubungan yang saling mengasihi dan agar mereka ke luar menjangkau pasangan lain yang membutuhkan kasih Kristus. Menolak rancangan Allah akan menyebabkan keterasingan antara suami-istri, penyesalan, kepahitan, merasa sia-sia, dan lebih dari itu adalah perceraian.</p>
<p>Kenyataannya, seseorang menikah tanpa pengalaman menikah. Bila tidak secara sadar berusaha belajar mewujudkan pernikahan yang berhasil, maka tingkat keberhasilan pernikahan itu hanya sejauh apa yang mereka lihat dari contoh yang ditampilkan orang tua mereka.</p>
<p><!--more-->Kemanakah belajar secara tepat? Alkitab. Alkitab adalah manual yang disiapkan Allah supaya kita hidup dalam pernikahan berdasarkan Blueprint Allah. Walaupun Alkitab ditulis ribuan tahun lalu, pesan yang ingin disampaikan Allah melaluinya melampaui batasan jaman. Yang saudara perlukan hanyalah teman untuk saling belajar menerapkan rancangan Allah itu.</p>
<p>Tim kami mempersiapkan kelompok <strong>HomeBuilder</strong> bagi siapa saja yang ingin membangun keseimbangan hidup dalam keluarga.</p>
<br/><a href="http://www.Tagenie.com/submit.php?url=http://www.lpmi.org/membangun-pernikahan-mengikuti-blueprint-allah/&title=Membangun+Pernikahan+Mengikuti+Blueprint+Allah" target="_blank"><img src="http://www.Tagenie.com/bookmark.gif" border="0" alt="Social Bookmarking" title="Membangun Pernikahan Mengikuti Blueprint Allah" /></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.lpmi.org/membangun-pernikahan-mengikuti-blueprint-allah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
